Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, 26 November 2013

Sang Utusan

Muhammad seperti Adam adalah bersih dan Murni
Dia adalah seorang nabi sejati , pasti ....
Muhammad seperti Nuh , membangun bahtera keselamatan
Bagi orang-orang dari segala zaman , setia kepada Agama .....

Muhammad seperti Abraham adalah tertentu dan Tertanggung
Dia diberkati oleh Yang Maha Kuasa , diselamatkan dan dijamin ...
Muhammad seperti Yunus , bertahan dalam sebuah ikan paus ( berarti waktu yang sulit )
Dan tidak pernah membiarkan pesan dari Tuhan pergi basi ....

Muhammad seperti Lut memperingatkan orang yang melampaui batas
Dia dipanggil melestarikan nilai-nilai ' untuk penerus .....
Muhammad seperti Yusuf Tampan dan Unik
Dia Jujur dan memiliki kebenaran penuh terpercaya , disebut ' Ameen ' dan ' Sadeq ' ...

Muhammad seperti Daud bijaksana dan diberkati
Dia tidak pernah membiarkan ketidak adilan , ditekan ...
Muhammad seperti Musa , Perkasa dan Kuat
Dia membebaskan umat-Nya dari mereka yang melakukan yang salah

Muhammad seperti John Dibaptis
Ia mendorong setiap jiwa dan tubuh tuk berperan .....
Muhammad seperti Isa , adalah rendah hati dan Lemah lembut
Dia menawarkan Kebenaran Sederhana , untuk semua orang yang mencari ...

Muhammad adalah Quran disebut ' segel nya Nabi '
Sebuah judul seperti intan permata (berlian) .. yang memiliki banyak sisi ..
Muhammad adalah "pamungkas para nabi " Allah mengirim
Dan AlQuran adalah " terakhir dari Pesan " Allah berarti ..

Muhammad adalah contoh bagi umat Islam untuk diikuti
Muhammad adalah obor kebenaran Cahaya yang terpancar ...
Muhammad adalah sejatinya standar hidup
Muhammad utusan Ilahi , tapi Muhammad jua adalah seorang manusia ... !

Didedikasikan untuk Nabi Muhammad - The last Of Prophet

Kolong Langit, 26- Nov - 2013

Tuesday, 5 November 2013

SELAMAT TAHUN BARU Gus Mus Dalam Puisi Beliau

Kawan sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan,sebelum kita dihisabNya
Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah,mukminin,muttaqin,
kholifah Alloh,umat Muhammadkah kita?
 
Khoirul ummatinkah kita?
 
Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi.
 
Hanya budak perut dan kelamin
 
Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan Lebih pipih dari kain rok perempuan
 
Betapapun tersiksa ,kita khusyuk didepan masa
 
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersamaNya
 
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
 
Kosong tak berdaya.
 
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
 
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
 
Doa kita sesudahnya justru lebih serius Memohon enak hidup didunia dan bahagia disurga.
 
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istiraht,tanpa menggeser acara buat syahwat,ketika datang rasa lapar atau haus,
 
Kita manggut manggut ..oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.
 
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia sia,
 
Kalaupun terkeluarkan,harapanpun tanpa ukuran Upaya upaya Tuhan menggantinya lipat ganda.
 
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri,mencari pengalaman spiritual dan material,membuang uang kecil dan dosa besar
 
Lalu pulang membawa label suci Asli made in saudi "HAJI"
 
Kawan lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersamaNya,
 
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,
mensiasati dunia khalifahnya,
 
Kawan tak terasa kita semakin pintar,mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih,
kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan,
 
kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan,
 
memukul,mencaci demi pendidikan,
 
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
 
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
 
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian Pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.
 
Lalu bagaimana para cendekiawan,seniman,mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah nabi.
 
Jangan ganggu mereka
 
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
 
Para seniman sedang merenungkan apa saja
 
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana mana
 
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
 
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
 
Biarkan mereka diatas sana
 
menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.

Adapun Puisi dalam bentuk MP3 anda bisa download, klik dibawah ini 



Wednesday, 30 October 2013

Aku Rindu Auramu

Pada bumi yang pernah kaki berpijak, kala ku tengok kediamanmu
Di tepian bengawan solo tepatnya
Membentang tanah berbangun
Gedung sederhana jua rumah kayu, sederhana

Tak seorangpun dapat perlakuan beda,
Kala bertamu sowan kesana
Berpijak disana orang berbusana putih
Terpernjat nuraniku, kala petuah hikmah terujar

Lantunan syair kehidupan, menerpa bagai butir salju dari lazuardi
Putih bening nan terasa sejuk
Bergerombol membukit,memuncak mengkristal
Bagai mutiara bercahya,

Salju yang warnanya putih, selalu mencair kala diterpa panas
Putih, lalu dinginnya terasa, mendinginkan akar nadi menembus dahan nurani
Kala kupandang, mereka
Aku selalu merindu akan terpanya

Aku ingin memapah lara, kala kemarau tiba
Agar ku tak lagi terpanggang, terbakar
Agar tubuhku tak lagi gersang dan hangus
Agar malam tak lagi kelam, bungkam

Ah entah, mungkin aku menduga
Jadi sungguh takaut, kini aku...
Mungkinkah karna musim yang masih kemarau
Butir salju itu kini jarang menerpa

Sungguh ku ingin bermusim-musim singgah disana
Agarku tersejukkan butir-butir salju sejukmu
Agarku terpantuli kilauan cahya mutiaramu
Jadi  lentera malam-malamku




Kolong Langit Surabaya, 09:09. 29 Oktober 2013 

Saturday, 26 October 2013

Sebatas Pena

Ku goreskan pena saat hati berkata…
Mencurahkan perasaan yang lama tertanam…
Mendalami kata hati selama dirasakan…
Batin bertanya, jiwapun gundah dan gelisah…

Hanya kiasan-kiasan menghibur batin…
Tidak tau benar tidak tau salah…
Yang terasa hanyalah sandiwara…
Atau entah, apa...???

Setitik embun harapan kehidupan…
Terangi jiwa yang di landa kegalauan…
Jangan biarkan hati teriris dan menanggis…
Tanamkanlah cinta harapan di hat
i, ujung ketulusan tombak kehidupan…

Resah dan gelisah menunggu sang waktu…
Ingin bahagia di kala hati merana…
Mendamba cinta nan jauh disana…
Hanya pena kemesraan mengobati kerinduan…

Malam...Andai nanti malam itu membuat
ku sakit..
Kutanyalah pada unggas mengapa malam itu menyakitkan?
Malam...Andai nanti malam itu membuatmu mengeluh...

Fikirkan,mengapa kau mengeluh sedangkan hari-hari mu baru bermula..
Malam...andai nanti malam itu telah lari jauh dariku..
Katakan pada diriku itu yg terakhir...
Dan,batin pun tertanya dan jiwa pun gulana..dimana kan ku hiasi lakaran penaku??
?

Batin pun tertanya dan jiwa pun gulana..
Dimana kan ku imbuhi akan harga cintaku??
?
K
arena...
Hanya layak untuk mekar untuk diriku y
ang kepayahan..


Djisamsoe, (09:10)03 03 2011

Monday, 14 October 2013

Wedhus yang Tulus





















Nampak semerbak, terendus
Bau lebus sang Wedhus
Namun...sungguh lebusmu, itu tulus
Sungguh lain dari yang lain, tak selebus hatiku, jua akalku yang bulus

Kuakui sungguh bahagia engkau,
Bisa menjadi hewan qurban
Terus terang ku iri hati padamu
Karnaku belum bisa sepertimu, yang tulus

Aku sampai kini hanya bisa mendongeng
Dan dikala berbakti pun masih tertatih, bertahta coreng
Tak sepertimu yang tulus berkorban
Pengorbananmu nyata sepenuh raga jua jiwa

Pun engkau Tiada Pamrih
Meski Tubuhmu tersayat perih
Semena engkau rela merelakan Nyawa melayang,
Darah mu mengucur lalu mengalir... pun dagingmu terpotong, tercincang

Kuakui, salut nian bangga aku, padamu Wahai wedhus...
Sungguh pengorbananmu itu telah mendarah daging


Kandang Wedhus, (13:13), 14.10.2013

Mengenang Hari

Pada temaram malam nan pekat
Ada bintang memang bertaburan
Namun sang bintang malam ini sedang berselimut
Katanya, terbata kala kutanya, ia bilang menggigil dan takut

Sang bintang hanya mampu berbaring, berjajar rapi
Bak ikan pindang di semenanjung bahari
Ia punya peran, jadi penghias lazuardi nan luas
memandang itu anganku jadi terbang bak layang-layang

Angaku bergelayutan, gentayangan..
Angan..kau, hanya  menebak, dan mengira, menerawang ia
Menembus lorong waktu
Berjalan menuju masa depan yang tertatih titahkan


Sedang Pandang mataku dikala ini
Masih jua tertuju pada satu yang buat ku terharu
Mencoba menyibak apa yang ada
Nampaknya ada yang elok rupanya, tuk dinikmati

Itu kata yang muncul dari bibir nyinyirku
"Ah... mulut  berdusta kau", demikian hati bicara spontan mengelaknya
 Lalu teringatku, akan petuah guru
Pandang mata, itu beda dan pandang hati,

Laksana
Ada dalam sisi mata uang satu kepingan
Atau juga dalam satu lembaran
Pun jua dimungkinkan..?

Ya, sungguh benar kata guru
Mengapa aku harus menggerutu menderu,
Selayak itu kah kau, Wahai aku...
Apa benar, sedang pandangmu belum tentu

Anda dan Kamu bisa memandangnya benar, kadang
Kadang jua Aku, Beliau, Mereka lalu Kita... melihatnya salah
Hampir tuju kali jarum itu memutar
Berkeliling tuju kali, bagai thawaf mengitari kakbah...


Padang Dinihari surabaya, (04:05). 14 Okt 2013 

Sunday, 13 October 2013

Kipasan Sayapmu, Terlelapkan Pangeran Suju

Sekian lama ku tak tahu akan kabarmu
Jadikan ku nian merindu..
Menanti, menunggu
Kabar aksi terbang indahmu, jua Kicauan merdumu

Lalu dan berlalu...
Ternyata tadi malam kau benar-ber berkicau merdu
Terbang anggun dengan sayap suci
Mengipas, menyegarkan nurani negeri

Hebat nian si garuda muda itu
Ksatria nan tangguh, sang pecinta ginseng
si Pangeran suju pun terlelap, akan memukaunya pesolekmu
Terluluh tumbangkan,
Tunduk di bawah kepakan, sayap indahmu

Kau menerkam dengan terkam santunmu
Beringas, gurat wajahmu
Indah mengipas sayap-sayapmu
Pesolekmu nian terpancar Memukau,

Dikala kau berjibaku di atas padang sayembara
Berjuta rakyat negeri, mendukung menonton
Dengan hati berdetak-detak, berdering nyaring laksana genta
Mulut pun tiada henti melantunkan doa, kepada Yang Maha dimohon

Akhirnya pun pengeran Suju
hanya terbungkam lesu
atas torehan indra
Sujud Syukur garuda kepada Tuhannya.



Surabaya, (08:09). 13 Okt 2013. 

Senandung tuk Sang Garuda

Garuda, kepakkan sayap indahnya
Menyelinap Cakar santunnya, 
Di bilik semak-semak ginseng
Bertumpu juang tuk asa, berbatas lonceng

Juangmu itu bukan hanya
Tuk jadi dongeng,
Namun jua Prestasi,berbalut harga diri
Yang nian patut diapresiasi

Tetap selempangkan selendangmu
Selendang bercorak merah, jua putih itu,
 
Sebagai senjata laskar jatidiri,
 
Bahwa Kaulah Pemberani, Bahwa kau ksatria suci 

Ayo Garuda...
Gaungkan simphoni nada semangat
Demi Indonesia
Yang Hebat nian bermartabat


Diatas rumput surabaya, 12, Okt 2013 (19:19)

Saturday, 12 October 2013

Introgasi Nurani

Rimbun nan hijau di seantero pandangan
Ketika pegunungan terindra pada pagi dini, selalu kabut melengkapi.
Hamparan biru muda di sepanjang pandangan ketika langit diterawang pandang ,
selalu awan menggenapi.

Kutemukan, yang pertama bercita-rasa dingin.
Yang lain hangat. Di mana tempat asap?
Mudah mengatakan pada angin, kalau asap justru panas.
Tak mudah mengabarkan pada mata perkara yang angkuhpanas....

Panas mencari kedamaian di dalam dingin.
Dingin meminta keberadaan untuk dihuni.
Jelmalah jelaga.
Hitam, bersusun sangat tipis, dan tak menarik.

Awan menyombong riakpada jelaga.
Kabutpun bercongkak-congkak.
Jelaga hanya bertanya; apa salah saya?
Tak sekedar seribu tahun, ratap jelaga menyetubuhisejarah.
Semilyar-dua...belum cukup jua.

Mungkinkah...
Jikalau hujan membasuh, barulah hingga.
Atau karunia sang air suci langit, menerpa.

Panas dan air bertemu di dalam gulita raksasa segala mendung.
"Ada jelaga lagi di sana," kata Panas. "menanti dihibur."
"Berapa jumlah kata mesti disemantikkan?" sergah air.
"Hanya tiga.....atau berapa"

"Katakan!"
"SELALU-ADA-TUHAN....."
 Apakah SenantiasaADA...?
Apakah...?semua jawaban terserah kamu, Aku hanya ingin Meniti kebenaranmu.



Gunung Penanggungan Pasuruan, 1 April 2013 (06:45)

Thursday, 10 October 2013

Pengasah, Pengasih Pengasuh

Merpati putih telah terbang
Bersama hembusan angin senja
Yang lamat-lamat.......
Merebakkan aroma melati di sampul surat itu

Bersama desau angin senja...
Ku ingin kirimkan kabar, pada kau yang disana,
Wahai merak khayangan , yang ada disangkar istana..
Ku ingin bercerita, cerita tentang masa lalu, masa kini dan masa depan

Cerita masa lalu... Kau pernah bilang dan janji ketika itu
Telingaku kini masih merekamnya
Merekam kicauan merdumu, kala itu
Disaat engkau baru mengenal sangkar istana..

Dulu.....kau mengicau, kicauanmu terdengar merdu,
Kian memukau aku terkena sihir pesolekmu,
Hanya, lantaran Kau kibaskan , bulu indahmu
Yang mengembang bak kipas putri ratu..

Cerita saat ini, kok lain, nampaknya kau sudah ingkar
Kicau dan pesolek bulumu tak seindah dulu, ku tahu kabarmu, dari sang pengabar
Bahwa bulu indahmu itu nian rontok,
Dirontokkan oleh keganasan, jua keserakahan. ,

Lalu.. katanya ada yang bilang padaku
Kini kau telah menjelma jadi singa..
Pada belantara, belukar yang tak gersang ini..
Kata mereka Kini ada seekor singa Buas, Kaukah itu,,?

Mengapa, harus terjadi..??
Mungkinkah karna,diasuh tanpa pengasah atau diasah tanpa kasih
Kemungkinan juga
Diasah tanpa pengasuh dan pengasih.

Meski Hidup berjuta Pengasah...
Pada genggamannya ada pena jua berlembar kertas
Darinya .... Dapat membaca, menulis dan memahami, 
Namun mereka bagai Lilin..rela habis terbakar diri 
Demi menerangi gelapnya negeri

Namun ku masih ingat, dan kan kuingat, jikalau....
Kala dahulu pernah singgah.. di belantara rimba nan buas itu,
Ada Singa, sang raja rimba welas asih..
Pada anak dan sahabatnya

Kebuasan sirna, kala sang maha pengasih jadi pengasuh nya.
Pengasuh yang benar-benar mengasihi
Takkan ada salah asah,jika Dia yang mengasah
Takkan ada salah kasih,jika Dia yang mengasih
Takkan ada salah asuh, jika Dia yang mengasuh


Surabaya, 12:15. 13  Jan 2013

Wednesday, 9 October 2013

Psikologi Bercermin


Sungguh, menapaki jalan ini butuh pundak sekuat Umar,,
Hati selembut Abu Bakar,,
Akal secerdik Ali,,
Dan adab sesantun Utsman,,

Adakalanya jiwa terasa kerontang,,
Entah apa namanya,,
Namun,..Pastinya jiwa membutuhkannya,,

Adakalanya jiwa terasa lelah,, raga terasa penat,,
Tuk sekedar mengingat ...bahwa
Jalan yang ku tapaki bukanlah jalan lurus beraspal halus..
Masih panjang,, nian belum terlihat ujungnya,,

Di jalan ini, ku sedang dan akan menapaki kerikil duri..
Ada bahaya mengintip di balik rimba hidup
Ada musuh yang menampakkan diri..
Pula kawan yang menelikung dengan samurai
Ada tantangan pula rintangnan yg mau tak mau harus dilalui

Menapaki jalan ini tak cukup hanya bermodal semangat
Karena Ada kalanya ia memudar,,
Menapaki jalan ini tak cukup bekal segudang pengetahuan,,

Tetapi jua membutuhkan segenggam keberanian,,

Menapaki jalan ini,,
Tak cukup sekedar keahlian bermain pedang,,

Tetapi juga menghajatkan keteguhan demi keteladanan

Rehatlah sejenak, mengumpulkan kembali pengetahuan,
Semangat, keberanian, kemampuan, serta keteguhan..
Rebahkanlah kepala sesaat,,
Ku ingin Berbaring,,
Pejamkan mata tuk renungi kelemahan diri,,
Meyakini keahakuasaan Ilahi..