Friday, 10 April 2009

Kepintaran Tidak Dilihat Dari Deretan Gelar Sarjana Tapi Isi Otak

Terkadang, kita menganggap remeh adanya suatu ungkapan baik yang disampaikan orang lain kepada kita, hanya karena kita tidak mengenal dengan baik pribadi dari orang lain yang menyampaikan ungkapan baik tersebut.

Padahal, pada saat yang bersamaan, kita sendiri lupa dan tidak menyadari, bahwasanya pembentukan tingginya kualitas diri seseorang, dapat pula diperoleh dengan cara mendengarkan atau mengikuti nasehat, saran masukan atau pendapat orang lain.

Dalam situasi dan kondisi tertentu, penerimaan kita atas pendapat orang lain, terkadang berlebih-lebihan. Kita seakan-akan telah menjadi manusia yang superior dalam hidup ini. Padahal, ketika hal itu kita lakukan, kita hanyalah seseorang yang sedang membangun imajinasi yang menyenangkan diri sendiri, yaitu imajinasi yang mengatakan bahwa kemampuan kita adalah yang terbaik dari yang baik. Kita sedang "menyempitkan" makna keberadaan orang-orang pintar lainnya.

Itu bisa terjadi karena terkadang kita lupa kalau : diatas langit, masih ada langit... diantara deretan orang pintar, pasti ada yang lebih pintar lagi...

Terjebak di alur pikiran sendiri, merupakan ungkapan yang cocok diletakkan pada orang-orang yang suka membangga-banggakan kepintaran diri mereka sendiri, hanya karena mereka telah memiliki sejumlah gelar kesarjanaan.

Kepintaran dan kemampuan diri seseorang, sering kali hanya dipandang dari ada atau tidaknya gelar kesarjanaan yang dimiliki seseorang, atau seberapa banyak gelar kesarjanaan yang telah berhasil diraih seseorang dari bangku perkuliahan.

Cara pandang seperti itu, langsung atau tidak langsung, telah menempatkan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan ekonomi berlebih, untuk bisa membayar uang kuliah agar bisa meraih gelar-gelar kesarjanaan sehingga dapat pula merasakan "dipandang" orang lain.

Harus diakui, semakin banyak gelar kesarjanaan dimiliki seseorang, akan semakin heboh orang lain memberikan penilaian bahwa seseorang itu adalah seorang yang pintar, bahkan sangat pintar. Padahal, penilaian seperti itu tidak dapat diberlakukan begitu saja, karena memang, kepintaran dan kemampuan setiap orang itu, ada batasnya atau tidak mencakup seluruh bidang kehidupan.

Normatif sajalah, karena seseorang memang terlihat pintar bukan dilihat dari gelar-gelar kesarjanaan yang berderet di depan atau di belakang namanya. Semakin panjang gelar kesarjanaan yang kita miliki, bukan berarti kita adalah "tuhan" yang maha tahu segalanya.

Untuk menghindari agar pola pemikiran naif dan terlalu norak itu berkembang sebagai cara pandang umum yang berlaku di masyarakat, ada baiknya kita yang pintar-pintar tidak menjadikan deretan gelar kesarjanaan sebagai patokan dalam menilai pintar atau tidaknya seseorangi, sebab gelar kesarjanaan bukanlah sebuah pertanda kalau seseorang itu benar-benar pintar.

Pandangan seperti itu tidaklah mendidik dan tidak membuat orang lain (khususnya yang tidak mampu secara ekonomi untuk membayar uang kuliah) agar terpacu untuk terus menambah isi otaknya dengan berbagai pengetahuan, tanpa harus melalui bangku kuliah.

Lulus dari bangku kuliah memang tidak mudah. Apalagi kalau dilakukan dalam tenggang waktu yang lebih cepat dari yang lainnya. Tapi semua orang yang kuliah itu, mengalami hal yang sama, tapi tidak semuanya dianggap pintar.

Dan, belum tentu seseorang yang dianggap tidak pintar, benar-benar tidak pintar (seperti halnya Albert Einstein), sebab bisa saja seseorang itu tergolong manusia yang low profile, sehingga kepintarannya tidak terlalu menonjol atau tidak ditonjolkan di muka umum.

Banyak orang-orang sukses atau pemimpin masyarakat, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, yang mendapatkan gelar kesarjanaan tingkat doktoral dari civitas akademika, karena mereka mengakui bahwa orang-orang sukses atau pemimpin masyarakat itu, adalah tokoh-tokoh yang diakui tingkat kepintarannya, dan kiranya layak mendapatkan yang terbaik, meskipun orang-orang sukses atau pemimpin masyarakat itu, belum pernah menikmati bangku kuliah sebelumnya.

Jadi, sebelum kita jauh bersikap untuk "mengagung-agungkan" kepintaran kita hanya karena kita memiliki gelar kesarjanaan yang berderet-deret, berpikirlah sejenak, tahan dirilah, sebab belum tentu individu atau komunitas masyarakat yang kita temui pada saat kita mengapresiasikan kesombongan diri kita itu, adalah individu atau komunitas masyarakat yang memang benar-benar tidak pintar.

Bahasa sederhananya : Hati-hati dalam bicara, segera tekap mulut kita ketika kesombongan akan terucapkan dari mulut kita...

Cobalah untuk membiasakan diri untuk tidak berjalan dengan dagu selalu terangkat keatas. Jangan pula membiasakan diri untuk mudah membuat anggapan bahwa orang lain itu tidak sepintar diri kita hanya karena kita "mengkoleksi" begitu banyak gelar kesarjanaan. Kalau itu kita lakukan, itu sama artinya kita sedang berada di dunia mimpi khayalan kita.

Kesombongan diri tidak akan membuat kita terlihat pintar, tapi justru akan membuat diri kita terlihat bodoh...


.Sarlen Julfree Manurung

Wednesday, 8 April 2009

TUHAN TAHU

TUHAN TAHU
By : Intan Malau


Semua ada waktunya….. ; Semua indah pada waktunya……
TUHAN tak akan terlambat….. ; Juga tak akan lebih cepat…..

TUHAN TAHU
Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan !!!
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia…
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

KETIKA KaU suDaH MenAngiS SEKIAN LAMA dAn HATIMU MasIh tEraSa PeDih…
TUHAN SudAh MENGHITUNG AIRMATAMU.......
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa
berlalu begitu saja…

Tuhan sedang Menunggu beRsama denGanmu.
Ketika kau merasa SENDIRIAN dan tEmaN-teMaNmu terlalu sibuk untuk
menelepon.

Tuhan selalu bErada disaMpingmu. Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu
hendak berbuat apa lagi… Tuhan Punya JawaBAnnya.

Ketika Segala seSuaTu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa TERTEKAN…
TUHAN dApat MENENANGKANMU.

JikA tiba-tiba kAu dapat Melihat JejAk-jEjaK hAraPAn…
Tuhan sedang BERBISIK kePadaMu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..
Tuhan telah memberkatimu.

Ketika Sesuatu yAng INDAH terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban…Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki TUJUAN untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi…
Tuhan sudah membuka MATAMU dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa DIMANAPUN kau atau KEMANAPUN kau mEnghadap… TUHAN TAHU

PEMILU, Laksana Nikah Kontrak Antara Caleg dan Masyarakat

Sebuah kalimat pendek yang ditulis Kakak saya pada paragraf kedua dalam blog pribadinya, menarik perhatian saya untuk terus membaca blognya itu hingga akhir. Artikel Kakak saya itu bisa dibaca di : http://cantik40s.blogspot.com/2009/04/pemilu.html

Kalimat pendek yang saya maksudkan itu adalah : Tapi iyalah. Ini namanya nikah kontrak.

Pemilu 2009 = nikah kontrak? Kalau dipikir-pikir, pernyataan tersebut ada benarnya.

Selama lima tahun kedepan nanti, kita sangat berharap agar wakil rakyat yang namanya kita contreng dalam pelaksanaan pemilu tanggal 9 April 2009 esok, tanpa diminta serta diingatkan, akan selalu mengingat dan mengayomi kita, sebagai balas imbalan karena kita telah bersedia memilih untuk mencontreng nama atau foto sang caleg agar bisa menjadi bagian dari anggota DPR, DPRD, atau DPD, dengan mendapatkan panggilan : Anggota Dewan Yang Terhormat.

Sejumlah anggota masyarakat mengatakan, hampir 98 % orang caleg yang ikut dalam kegiatan pemilu 2009 besok, merupakan bagian dari orang-orang yang benar-benar tidak mereka kenal secara pribadi.

Mereka juga mengatakan, kalau mereka tidak pernah bertemu atau bertatap muka secara langsung, pernah bertemu tanpa disengaja di suatu tempat namun tidak bertegur sapa, atau mereka juga baru sekali saja bertemu dengan caleg, itupun atas permintaan sang caleg.

Bukankah seperti itu keadaan yang tercipta pada saat terjadi nikah kontrak? Bukankah seperti itu pula peristiwa yang akan kita alami pada saat kita akan mencontreng (apakah dengan mikir-mikir dahulu di bilik TPS atau dengan penuh semangat dan percaya diri angsung memilih) nama salah seorang caleg yang kita pilih dari antara ratusan nama caleg yang terdapat dalam satu lembar kertas surat suara?

Apabila ikut memilih dalam pelaksanaan pemilu tanggal 9 April 2009 nanti, nampaknya akan banyak dari antara kita yang memang benar-benar berada pada satu situasi penuh dilema.

Dilema tercipta karena hingga beberapa menit sebelum kita mencontreng salah satu nama dari ratusan nama caleg dalam satu lembar kertas suara, kita "seakan-akan" dipaksa harus segera menentukan pilihan, dengan memilih salah seorang dari antara orang-orang yang : benar-benar tidak pernah mencoba mencari tahu siapa kita, atau memilih orang-orang yang benar-benar tidak berusaha untuk mengenal siapa kita.

Kondisi seperti itulah yang tidak ingin dihadapi oleh sejumlah orang yang beramai-ramai berniat untuk golput.

Pada prinsipnya, mereka yang akan golput, tidak mau salah memilih caleg, yang ternyata memiliki kepribadian bagaikan kucing garong, seseorang yang ternyata hanya haus kekuasaan semata, atau bahkan, seorang caleg yang sepertinya malu-malu kucing, namun ternyata berbakat menjadi koruptor.

Mereka yang berniat untuk golput pada pemilu tanggal 9 April 2009 nanti mengatakan : untuk apa kita memilih sejumlah orang yang kenyataannya benar-benar tidak kita kenal, memilih sejumlah orang yang kenyataannya benar-benar tidak pernah mencoba mencari tahu siapa, apa, dan bagaimanakah kita, atau memilih orang-orang yang kenyataannya memang tidak berusaha untuk mengenal siapa kita?

Fakta sejarah menyatakan, ketika caleg telah berhasil mencapai kursi DPR, DPD, atau DPRD, ternyata masih banyak anggota DPR, DPRD, atau DPD yang tetap memelihara sikap tidak pernah benar-benar mencoba untuk mencari tahu atau tidak pernah benar-benar mencoba untuk mengenal siapa sesungguhnya para anggota masyarakat yang telah memilihnya. Entah kenapa, sikap seperti itu akan kembali dipertontonkan kepada masyarakat setelah mereka terpilih menjadi anggota Dewan.

Sikap yang seperti itukah yang ingin ditonjolkan oleh para caleg kita hingga saat ini?

Seratus tujuh puluh juta lebih warga masyarakat pada hari pelaksanaan pemilu, seolah-olah “digiring” untuk berani ambil resiko dengan menentukan pilihan mereka atas sejumlah nama dari ratusan nama caleg yang ada di lembar kertas suara dengan menyontreng salah satu namanya.

Upaya pemaksaan seperti ini tentu saja tidak adil bagi masyarakat karena hingga menjelang hari pemilihan umum, banyak anggota masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan yang baik dan memadai akan tingkat kredibilitas maupun kapabilitas dari orang-orang yang akan dipilihnya.

Oleh sebab itu, keberhasilan setiap caleg yang dapat meraih satu kursi di DPR, DPRD, maupun DPD di Indonesia, sesungguhnya tidak diperoleh karena dirinya memang memiliki kemampuan baik untuk dapat meyakinkan warga masyarakat agar memilih dirinya, akan tetapi karena “kebaikkan” sejumlah komunitas masyarakat yang ingin tetap menyalurkan aspirasi politik mereka meskipun mereka sendiri tidak tahu apa, siapa, dan bagaimana caleg yang dipilihnya itu.

Tentunya, kebaikkan sejumlah komunitas masyarakat itu diiringi dengan adanya suatu harapan besar, yaitu suara mereka diperjuangkan oleh wakil rakyatnya. Dalam hal ini, prinsip simbiosis mutualisme, berlaku.

Sayangnya, harapan masyarakat yang sudah mengambil resiko untuk memilih orang yang tidak mereka kenal agar menjadi wakil rakyat mereka di DPR, DPRD, atau DPD, sering kali hanya dimanfaatkan sebagai media meraih perolehan suara semata, dan bukannya sebagai suatu komunitas masyarakat yang seharusnya didengarkan serta diayomi kemudian.

Masalahnya, sikap acuh tak acuh atau sikap tidak pernah benar-benar mencoba mencari tahu atau mengenal siapa sesungguhnya anggota masyarakat yang memilihnya, yang telah ada semenjak masa kampanye, bisa dibilang, telah menjadi budaya dalam diri para caleg kita dari masa ke masa.

Para caleg yang pada awal mulanya bersikap manis kepada masyarakat, setelah menjadi anggota DPR, DPRD, atau DPD, kemudian berbalik arah meninggalkan masyarakat yang telah membuat mereka meraih mimpi, yaitu menjadi bagian dari warga Anggota Dewan yang Terhormat. Mereka bagaikan kacang yang lupa pada kulitnya.

Oleh kemampuan bujuk rayu yang teramat baik, para caleg datang pada komunitas masyarakat agar diri mereka dapat dipinang dan dipilih masyarakat pada saat pemilu.

Antara pribadi yang saling tidak mengenal, mereka ingin saling meminang, layaknya rencana dua insan anak manusia yang ingin melakukan nikah kontrak. Pertautan mungkin terjadi, namun kebanyakkan hanya berlangsung sesaat waktu saja. Ketika sang caleg telah berhasil mendapatkan “madunya” (suara dari komunitas masyarakat yang berhak memilih), maka komunitas masyarakat itupun, ditinggalkan.

Dulu dan sekarang, sama saja. Peristiwa “nikah kontrak” antara caleg dengan komunitas masyarakat saat pelaksanaan pemilu, pada akhirnya merugikan masyarakat, karena sang caleg hanya mau “diberi” namun tak mau “memberi”. Kalau caleg yang memegang prinsip seperti itu, sebaiknya gak kita pilih dalam pemilu besok, 9 April 2009....

Selamat memilih, selamat berpartisipasi dalam pesta demokrasi.

GBU Everybody


.Ir. Sarlen Julfree Manurung

Monday, 6 April 2009

ASRIANTY PURWANTINI (Caleg PDS) Bicara Soal PLURALISME Bagikan

M E N D O R O N G P L U R A L I S M E
Asrianty Purwantini
Caleg PDS no.urut 3 dapil Jawa Timur 5 (Malang Raya) - Jawa Timur


JAKARTA – Untuk menyambut baik kebijakan pemerintah mengenai kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen, Arianty Purwantini merasa terpanggil untuk berperan aktif dalam menghasilkan solusi terbaik mengatasi krisis multidimensi di Indonesia.

Berbekal misi memperjuangkan pluralisme, wanita kelahiran Jakarta 47 tahun silam ini mantap memilih Partai Damai Sejahtera (PDS) sebagai kendaraan politik menuju Senayan. Dia beralasan, hanya PDS satu-satunya partai yang konsisten memperjuangkan pluralisme dan perlakuan nondiskrimatif terhadap kelompok minoritas.

Meski dikenal sebagai partai yang memiliki basis massa umat nasrani, namun wanita berjilbab ini mengaku tidak sungkan bergabung dengan PDS. Salah satu motif pribadinya memilih bergabung dengan PDS dilatari keinginan untuk menunjukkan wajah Islam yang toleran dan terbuka untuk bekerja sama dengan umat beragama lain.

Dia mengaku kecewa dengan segelintir umat Islam yang berusaha memaksakan kehendak menerapkan syariat Islam sebagai bagian dari produk hukum Indonesia. Menurutnya, ada banyak nilai-nilai ajaran Islam yang lebih universal yang semestinya menjadi prioritas. Setiap warga, kata Arianty, harus bisa menyadari status, hak, dan kewajibannya sebagai warga negara yang dilindungi, dijamin dan dibatasi oleh peraturan hukum yang bersumber dari Pancasila dan UUD 1945.

Arianty juga berpendapat, perlu ada perubahan cara pandang dalam diri setiap calon wakil rakyat, bahwa menjadi anggota legislatif seharusnya tidak dikaitkan dengan uang dan kekuasaan, tetapi dengan pengabdiaan dan pelayanan kepada masyarakat.

Cara pandang seperti itu membuat Arianty merasa tidak terikat dengan ambisinya menjadi anggota dewan. Karena pengabdian dan pelayanan masyarakat, menurut Arianty, bisa dilakukan setiap orang tanpa harus menjadi anggota dewan terlebih dulu. Untuk itu, dia berjanji akan terus memperjuangkan pluralisme meski tidak berhasil terpilih.

Wanita yang juga pernah aktif sebagai kader Kosgoro ini berpandangan, dalam membela kepentingan rakyat, siapa pun tidak boleh memandang agama, ras, dan golongan sebagai dasar pertimbangannya.

Kepada SH, calon legislatif nomor urut 3 dari daerah pemilihan Malang Raya ini mengaku prihatin dengan banyaknya peraturan hukum yang lahir dari sumber hukum agama tertentu. Hal itu, kata Arianty, bisa memicu lahirnya perasaan terdiskriminasi dari kelompok lain yang berbeda keyakinan.

Jika tidak segera dievaluasi, dia khawatir dapat mengancam keutuhan bangsa yang dibangun dari realitas kebinekaan Indonesia. Sebagai wujud kepeduliannya terhadap NKRI, Arianty berjanji akan memperjuangkan penghapusan produk-produk hukum diskriminatif yang bersumber dari ajaran agama tertentu jika nanti terpilih sebagai anggota dewan.
(wishnugroho akbar)


Note : Tulisan ini telah dimuat di Harian Surat Kabar SINAR HARAPAN

Tuesday, 31 March 2009

Caleg Pilihan untuk Dapil DKI 1 Jakarta Timur

PASAL 25 ayat 2, PASAL 25 ayat 6, dan PASAL 36


Wallaaa... Judul diatas, bukanlah sebuah thema artikel saya yang ingin membahas peraturan hukum yang berlaku di Indonesia, atau berkaitan dengan isi dari Firman Tuhan.

Pasal-pasal yang saya pakai sebagai judul diatas adalah sebuah perumpamaan, yang ingin saya pakai sebagai thema kampanye saya untuk para caleg yang saya referensikan untuk dipilih oleh rekan-rekan sekalian yang ada di wilayah Jakarta Timur.

Mereka adalah orang-orang terbaik yang beberapa hari belakangan ini, saya ikuti perkembangan kegiatan dan aktifitas sehari-harinya. Mereka adalah : Ir. Erwin Marpaung, Pdt. Tiapul Hutahaean, MTh, dan Pdt. Saut Hamonangan Sirait.

Nama-nama yang saya pilih, merupakan nama-nama caleg yang selama ini memiliki cukup banyak aktifitas yang membawa kebaikkan pada masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang berdedikasi tinggi dan serius memperjuangkan nasib rakyat.

Berikut, sekelumit pemaparan tentang nama-nama caleg yang saya referensikan tersebut :


PASAL 25 AYAT 2 (Caleg PDS untuk DPR RI nomor urut 2 Dapil DKI 1 Jakarta Timur) tercatat untuk nama : Ir. ERWIN MARPAUNG

Ir. Erwin Marpaung merupakan Caleg PDS nomor urut 2 dapil DKI 1 (Jakarta Timur) untuk DPR RI.

Tokoh pertama yang saya referensikan adalah : Ir. Erwin Marpaung, Pria keturunan Batak berusia 41 tahun. Sehari-hari aktifitas Bang Erwin adalah Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDS. Beliau juga seorang pengusaha yang bergerak dibidang konstruksi.

Pendidikan S1 Erwin Marpaung adalah Sarjana Teknik Sipil lulusan Institut Teknologi Indonesia, Serpong, pada tahun 1993. Gelar Master diraihnya di Sekolah Tinggi Teologia (STT) IKAT - Jakarta, bidang study Pastoral Counselling dan dilanjutkan dengan program doctoral S3 di bidang Pastoral Counselling juga dan lulus tahun 2007.

Keterlibatannya dalam sejumlah organisasi kemasyarakatan, membuat Ir. Erwin Marpaung mulai tertarik untuk terlibat aktif dalam kancah politik nasional pada tahun 2007, dan akhirnya memutuskan untuk menggabungkan diri secara resmi kedalam Partai Damai Sejahtera pada tahun 2008.

Dapat dikatakan, Ir. Erwin Marpaung merupakan tokoh muda bangsa yang berpotensi untuk menjadi pemimpin bangsa dengan semangat nasionalisme tinggi. Kepedulian Ir. Erwin Marpaung kepada bangsa ini, membuat Beliau menginginkan agar bangsa Indonesia dan parlemen kita tampil lebih baik.

Terkait dengan lembaga DPR RI, Ir. Erwin Marpaung menginginkan agar keanggotaan DPR RI kita pada periode 2009 - 2014, lebih bermartabat, lebih jujur dan terbuka pada rakyat, dengan mengutamakan pelayanan publik yang lebih berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan golongan atau kelompok tertentu yang ada di masyarakat.


PASAL 25 AYAT 6 (Caleg PDS untuk DPRD DKI Jakarta nomor urut 6) tercatat untuk nama : Pdt. TIAPUL HUTAHAEAN, MTh.

Inang atau Ibu Pendeta Tiapul merupakan Caleg PDS nomor urut 6 dapil DKI 1 (Jakarta Timur) untuk DPRD DKI Jakarta.

Ibu Pdt. Tiapul Hutahaean, MTh. merupakan salah seorang pendeta di HKBP, pada saat ini ditempatkan di HKBP Perumnas Klender, Jakarta Timur. Pengukuhan Inang Pdt. Tiapul Hutahaean, MTh. dilakukan pada tanggal 16 April 1995.

Ibu Pdt. Tiapul, lahir pada tanggal 30 November 1963. Menikah dengan Ir. Sahat Manihuruk. Oleh sebab itu bisa dikatakan kalau Inang Pdt. Tiapul Hutahaean, MTh. termasuk kedalam tokoh muda bangsa yang berkeinginan agar bangsa Indonesia menghargai adanya kesamaan hak diantara umat beragama di Indonesia.

Aktifitas harian Inang Pdt. Tiapul Hutahaean, MTh. yang bergerak dalam kegiatan pelayanan Firman, menempatkan Inang Pendeta sebagai calon pemimpin masyarakat yang menjauhi perilaku atau perbuatan yang lekat dengan dosa, layaknya tindak pidana korupsi, dan lebih mengedepankan berbagai bentuk kegiatan yang lekat dengan pelayanan kemasyarakatan, khususnya pembinaan mental, moral, serta kerohanian.

Pada saat ini, pencalonan diri Inang Pdt. Tiapul Hutahaean, MTh. sebagai caleg PDS untuk kursi DPRD DKI Jakarta, memperoleh banyak dukungan dan berharap dukungan dari Keluarga Besar MANIHURUK, Keluarga Besar HUTAHAEAN, Keluarga Besar SAGALA, Keluarga Besar SIBARANI, Keluarga Besar PANGARIBUAN, Keluarga Besar SILALAHI, Keluarga Besar PARNA, dan anggota JEMAAT HKBP yang ada di wilayah Jakarta Timur.


PASAL 36 (Caleg DPD DKI Jakarta) tercatat untuk nama : Pdt. SAUT HAMONANGAN SIRAIT

Amang atau Bapak Pendeta Saut Hamonangan Sirait merupakan Caleg DPD dari DKI Jakarta.

Bapak Pendeta Saut Hamonangan Sirait, merupakan seorang Pendeta yang bergiat dalam banyak aktifitas sosial kemasyarakatan.

Pendeta yang ditahbiskan sebagai Pendeta HKBP pada tahun 1992 ini, lulus sebagai sarjana S1 dari Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta. Bapak Pdt. Saut Sirait juga lulus sebagai sarjana S2 bidang Etika Politik di kampus yang sama.

Cukup banyak aktifitas Bapak Pdt. Saut Sirait. Bapak Pdt. Saut Sirait pernah menjadi Wakil Ketua Pemuda HKBP Tanjungkarang, Lampung, Sekretaris Senat Mahasiswa STT, Ketua GMKI Jakarta,Sekretaris Pokja Pemuda PGI, Ketua Pannas Perkemahan Kerja Pemuda PGI 1985-1990, Ketua DPP GAMKI, DPP PIKI, Sek. Ikatan Alumni STT Jkt.

Bapak Pdt. Saut Sirait adalah salah seorang pendiri Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) pada tahun 1996, yang didalamnya bernaung pula 13 ormas pemuda dan mahasiswa. Aktifitas lainnya, Bapak Pdt. Saut Sirait pernah pula menjadi Direktur Departemen Pemuda Kantor Pusat HKBP, untuk masa bakti 1991 - 1996.

Bapak Pdt. Saut Sirait juga pendiri dan deklarator dari Komite Independen Pemantau Pemilu bersama-sama dengan Nurcholis Madjid (alm), Gunawan Muhammad, Mulyana Kusumah, Budiman Sudjatmiko, dll.

Dalam cakupan tingkat nasional lainnya, Bapak Pdt. Saut Sirait juga pernah menjadi Wakil Pengawas Pemilu Pusat RI, tahun 2004.

Pada saat ini, Bapak Pdt. Saut Sirait adalah Ketua Umum DPP Partisipasi Kristen Indonesia dan Dewan Kurator dan Narasumber Pendidikan Politik PGI.


Cukup lengkap kan? So, referensi ini memang saya buat berdasarkan data yang ada dan dapat diperoleh masyarakat umum. Mungkin, kita bisa menemukan kekurangan dalam diri mereka. Tapi, janganlah kita membiasakan diri melihat kekurangan orang lain, dan berpikir negatif akan orang lain.

Mari, kita pandang mereka sebagai sosok yang mau bekerja untuk rakyat, demi kebaikkan, demi masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera, damai, dan takut akan Tuhan.

Kalau ada pertanyaan, kok orang batak semua? Well, hanya mereka yang saya kenal dan peroleh data atau informasi yang cukup banyak. Saya tidak berniat bersikap diskriminatif. Tapi kalau teman-teman ada nama caleg lain yang ingin dipublikasikan, monggo, kita kerja sama untuk mempublikasikan mereka.

Besar harapan saya, orang-orang Kristen dan orang-orang Batak di Jakarta, menyatukan suara untuk mendukung caleg PDS. Selain sekarang lebih bernuansa nasionalis, hanya PDS yang memiliki tingkat kepedulian tinggi atas kaum minoritas yang tertindas dan hak-haknya dirampas atau dilecehkan.

Satu hal yang terpenting :

HANYA ANGGOTA DPR DARI FRAKSI PDS SAJA YANG BERSIH DARI KORUPSI, BAHKAN TIDAK PERNAH MENERIMA ATAU MENOLAK UANG GRATIFIKASI.

Pernyataan ini tidak melekat pada partai politik lain yang memiliki anggota di DPR.

Mari, Memilih Wakil Rakyat yang Tepat

Satu periode keanggotaan DPR dan DPRD kita, sebentar lagi akan berakhir. Banyak hal yang telah dihasilkan, namun tidak sedikit pula pengungkapan-pengungkapan perilaku buruk dari para anggotanya, menjadi bahan pembicaraan luas ditengah-tengah masyarakat.

Harus diakui, banyak anggota DPR RI dan DPRD kita yang bermasalah. Banyak yang tidak bertindak sebagai wakil rakyat, karena cenderung lebih mementingkan kepentingan partai dan aktif mencari imbalan jasa atas setiap usaha atau kegiatan rapat yang mereka lakukan.

Jadi jangan heran kalau tidak sedikit anggota DPR dan DPRD periode 2004 - 2009 yang tersangkut masalah hukum, karena mereka memang benar-benar tidak berniat sebagai wakil rakyat, namun sebagai wakil partai.

Perilaku yang tidak mementingkan rakya, masih pula ditambah dengan adanya perilaku amoral dalam diri sejumlah anggota DPR dan DPRD kita, yang suka melakukan tindak pelecehan kepada kaum perempuan, atau menjadikan kaum perempuan sebagai "insan" melampiaskan nafsu birahi yang tak mampu ditahan.

Baik buruknya moral seseorang, memang kita tidak tahu. Namun selayaknya kita, sebagai warga negara yang berhak memilih wakil-wakilnya di DPR, tidak memilih pribadi-pribadi pemimpin yang tidak dapat menjaga sikap dan perilakunya, karena buruknya perilaku anggota DPR dan DPRD kita, akan berimbas pada kinerja mereka sebagai anggota legislatif.

Oleh sebab itu, kita harus benar-benar memilih calon anggota legislatif, terutama yang kata-katanya tidak hanya berisi janji-janji, suka membagi-bagikan uang, atau memilih seorang caleg yang hanya didasarkan pada pertimbangan bahwa diri mereka berasal dari kaum "putih" yang akan membela rakyat habis-habisan.

Mari kita lihat kenyataan hidup bahwa sejak mulanya tidak ada seorangpun di tanah darat bumi kita ini, yang benar-benar "putih dan bersih" tanpa bernoda. Temukanlah nama calon anggota legislatif yang benar-benar bersedia hidup sebagai pengabdi bagi rakyat, bukan bersikap eksklusif di mata rakyat, apalagi hanya berjuang untuk mementingkan kepentingan satu kelompok atau golongan masyarakat semata.

Artinya, kita memilih calon pemimpin yang benar-benar bersedia dan siap berdiri diatas kepentingan pribadi dan kelompok. Mayoritas bukan berarti punya hak untuk menekan yang minoritas, karena tanpa kaum minoritas, negara ini tidak memiliki simbol identitas PERSATUAN dan KESATUAN BANGSA.

Oleh sebab itu, kita harus memilih calon anggota legislatif yang benar-benar mau mengabdi untuk kepentingan seluruh rakyat, bukan untuk kepentingan kelompok atau golongan semata.

Bangsa ini bukan milik sekelompok atau segolongan orang saja. Bangsa ini adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai komunitas etnis, suku, dan iman kepercayaan. Bangsa ini adalah Bhineka Tunggal Ika sejak dulu kala.

Pluralisme adalah fakta sejarah bangsa kita dan telah tercipta jauh sebelum negara kita menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Jadi, janganlah kita memilih calon anggota legislatif yang ingin "menyangkal" adanya pluralisme dalam kehidupan masyarakat kita, sebab calon anggota legislatif yang ingin "menyangkal" adanya pluralisme, cepat atau lambat, mereka akan menebar benih-benih perpecahan dalam persatuan dan kesatuan di negara kita dengan berbagai cara.

Kenapa demikian? Karena mereka akan memaksakan kehendak agar hanya ada satu culture saja di negara ini, sedangkan negara kita terdiri dari aneka budaya dan suku daerah, yang merupakan karunia Tuhan dan membuat negara ini besar serta kaya akan ragam kebudayaan daerah.

Tanggal 9 April 2009 nanti, bangsa Indonesia kembali akan mengadakan pemilu. Salurkanlah aspirasi politik dengan memilih calon anggota legislatif yang dapat menyampaikan suara seluruh anggota masyarakat, dan bukan segolongan saja.

Kita harus belajar dari situasi yang telah dibangun serta diciptakan oleh para anggota DPR dan DPRD periode 2004 - 2009, yang banyak menghasilkan produk UU yang tidak aspiratif (cenderung lebih mengarah pada pemenuhan kepentingan golongan atau kelompok tertentu), dan banyak yang memiliki perilaku seorang koruptor atau amoral.


.Ir. Sarlen Julfree Manurung

Please Jangan Ada Yang GOLPUT Dalam Pemilu Nanti

Rangkaian kegiatan kampanye terbuka, sebentar lagi usai. Setiap partai politik peserta pemilu saling berlomba-lomba merayu rakyat agar bersedia memilih dan mendukung caleg yang mereka ajukan agar menjadi anggota DPR RI, DPD, serta anggota DPRD tingkat propinsi dan kabupaten.

Adakah niat untuk menghadirkan kemajuan hidup masyarakat luas yang partai-partai politik itu tawarkan dalam setiap kampanye?

Tentu saja. Namun, sebagian partai politik peserta pemilu, dengan kemampuan pendanaan yang besar, hanya ingin menawarkan mimpi-mimpi yang terkonsep baik. Sedangkan sebagian kecil partai politik lainnya, hanya dengan dilandasi semangat ingin memperbaiki kondisi negeri ini, berjuang untuk merebut simpati masyarakat berdasarkan kemampuan keuangan yang ada atau kemampuan keuangan yang seadanya.

Sejauh ini, berdasarkan survey yang diselenggarakan oleh sebuah media massa terbitan ibukota, pilihan masyarakat cenderung bimbang untuk memilih caleg-caleg dari partai politik mana yang akan mereka tunjuk sebagai wakil rakyat mereka di DPR.

Asumsinya, memilih caleg dari partai-partai besar, seakan bukan lagi jaminan bahwa suara mereka akan mendapatkan perhatian dari para anggota parlemen mendatang, mengingat perilaku para anggota parlemen periode 2004 - 2009 yang tidak konsisten dan serius mendengarkan suara rakyat, bahkan banyak yang terlibat tindak pidana korupsi dan pelecehan seksual pada kaum perempuan.

Hadirnya partai-partai politik baru, tidak pula menarik perhatian mereka, karena banyak dari partai-partai politik baru tersebut yang masih belum terbangun dan teruji dengan baik tingkat kepercayaannya, meskipun ketua umum atau pembina dari sejumlah partai-partai politik baru tersebut, merupakan mantan petinggi partai politik lama, yang sudah lebih dulu dikenal dan memiliki pengaruh di panggung politik nasional

Kondisi belum teruji ini membuat banyak anggota masyarakat kita yang emoh untuk memilih caleg dari partai baru. Padahal, mereka juga enggan mencontreng caleg dari partai yang telah lebih dahulu eksis. Jadinya, banyak calon pemilih sekarang, terutama dari kalangan generasi muda bangsa, yang memilih untuk golput.

Apakah memang mereka harus golput?

Seharusnya tidak. Apabila mereka memakai alasan tidak punya pilihan, itu merupakan alasan paling bodoh yang pernah diungkapkan oleh orang-orang terdidik di negeri kita. Belum melihat dan mencari tahu, mereka sudah bilang : GOLPUT AJA DEH...

Mereka lebih memilih untuk pasrah pada hasil pemilu sebelum mereka sendiri mencoba untuk mencari dan menentukan caleg yang layak mereka pilih sebagai wakil rakyat mereka. Mereka tidak sadar kalau pilihan mereka untuk golput telah menciderai hati orang-orang miskin dan tak mampu lainnya. Kenapa begitu?

Langsung atau tidak langsung, kemiskinan banyak anggota masyarakat kita terjadi karena pemerintah dan kaum penguasa yang duduk di lembaga legislatif, tidak menempatkan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan tak mampu lainnya, dalam rencana kerja yang terintegritas, bersifat terpadu serta berkesinambungan.

Apabila pengentasan benar-benar ditempatkan dalam program kerja pemerintah yang disiapkan secara terintegritas dan berkesinambungan, maka dalam tenggang waktu beberapa tahun, jumlah masyarakat miskin dan tak mampu lainnya, seharusnya dapat banyak berkurang.

Namun ternyata hal itu tidak benar-benar dilakukan, karena adanya unsur-unsur kepentingan politis yang membuat pemerintah tidak serius mengurusi kelompok masyarakat miskin dan tak mampu lainnya.

Partisipasi kelompok masyarakat, terutama generasi muda, untuk terlibat dalam kegiatan pemilu, apabila diterapkan dengan prinsip memilih orang-orang yang kredibel dan dapat dipercaya, dapat mendorong terjadinya perubahan terhadap para pelaksana pemerintahan serta pemegang kekuasaan negara, dalam menyusun konsepsi pembangunan yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan.

Sedangkan apabila mereka tidak berpartisipasi, adanya kemungkinan para politisi yang suka berpikiran korup dan tidak memikirkan rakyat banyak untuk menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, bisa saja terjadi karena kelompok mereka berhasil memenangkan pemilu.

Inikah yang mereka harapkan? Tentu tidak. Jadi, kalau tidak mau kelompok politisi yang suka berpikiran korup dan tidak memikirkan rakyat menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, bersatu padulah untuk datang ke TPS pada saat pemilu, untuk memilih wakil rakyat yang kredibel berdasarkan pilihan hati nurani.

Masih banyak hal yang bisa diangkat untuk menjadi alasan kenapa kita harus ikut berpartisipasi dalam pemilu nanti. Salah satunya : memberikan pola pembelajaran politik yang baik pada masyarakat.

Kita harus bisa jadi mentor masyarakat karena sebagai orang-orang yang terdidik, kita harus bisa mengajarkan atau mengarahkan orang banyak, agar bisa pintar atau hidup lebih baik.

Pemilu nanti, jangan ada yang GOLPUT. Golput memang bisa dipilih, tapi pikirkan baik-baik sebelum benar-benar memilih golput, apakah pilihan untuk golput itu akan membawa banyak manfaat bagi orang banyak atau tidak. Kalau hanya ingin mementingkan diri sendiri, sebaiknya tidak memilih untuk golput dalam pemilu, karena suara kita dalam pemilu, sangat besar artinya, khususnya untuk masyarakat miskin dan kurang mampu lainnya.


.Sarlen Julfree Manurung