Showing posts with label article. Show all posts
Showing posts with label article. Show all posts

Tuesday, 17 April 2012

Menyikapi Adanya Perubahan Sikap Atau Perilaku Pada Anak

I. Antara Keluhan dan Kekhawatiran Orang Tua

 

Banyak orang tua yang mengeluh karena anak-anak mereka yang mulai beranjak remaja dan dewasa (kira-kira, usia anak SMP dan SMA), mulai sering membantah perkataan mereka, mulai sering minta ijin pulang terlambat, atau mulai sering berbohong. Keluhan itu masih pula diikuti dengan adanya suatu kekhawatiran, kalau anak mereka telah terpengaruh oleh pergaulan yang salah.

 

Pada dasarnya, adanya keluhan dan rasa khawatir orang tua seperti itu, masih dalam batas kewajaran, karena tidak ada satu pun orang tua di dunia ini yang menginginkan anaknya memiliki sikap atau perilaku yang buruk sebagai bagian dari kepribadiannya. Hati dan pikiran orang tua pasti cenat-cenut oleh karenanya.

 

 

II. Penyebab-penyebabnya

 

Lingkungan pergaulan diluar rumah, memang merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan besar dalam membawa perubahan sikap atau perilaku pada diri seorang anak kearah yang tidak baik. 

 

Kehidupan di luar rumah, membuat anak "melihat dunia" yang berbeda dari apa yang pernah digambarkan atau dijelaskan orang tua kepadanya. Lingkungan pergaulan membuat anak melihat, mendengar, merasakan, dan menghadapi berbagai peristiwa yang selama ini belum pernah diketahui sebelumnya.

 

Dengan kata lain, adanya interaksi dengan orang-orang di luar rumah, bisa menjadi sumber inspirasi adanya perubahan pola sikap maupun perilaku pada anak.

 

Usia anak yang masih remaja atau baru memasuki usia dewasa muda, masih belum kaya dengan pengalaman hidup. Anak masih rentan dengan masuknya berbagai informasi dan pengetahuan yang salah, yang tidak patut di contoh dan ditiru, yang penuh dengan rekayasa atau tipu muslihat, serta yang mengandung tindak kekerasan.

 

Meskipun demikian, patut pula diingat para orang tua, tidak tertutup kemungkinan, kalau perubahan sikap atau perilaku anak terjadi karena keadaan atau kondisi lingkungan di dalam rumah yang sering kali tidak kondusif, dan karena pola kebiasaan / didikan yang tidak inspiratif.

 

Hari-hari kehidupan di dalam rumah dilalui dengan : penuh pertengkaran, teramat mudah untuk mengucapkan kata-kata kasar, tidak sungkan melakukan tindak kekerasan di depan anak, tidak ada sikap saling menghormati dan menghargai, serta tidak ada dukungan untuk kemajuan hidupnya.

 

Selain menimbulkan trauma psikologis pada diri anak, kondisi rumah yang tidak kondusif mendorong adanya perubahan sikap atau perilaku anak untuk mengikuti berbagai kebiasaan buruk yang dibiarkan berkembang di rumah.

 

Tidak hanya itu. Kerumitan dalam mengarahkan pola sikap atau perilaku anak yang out controljuga bisa terjadi karena orang tua tidak menerapkan pola didik serta pola komunikasi yang benar terhadap anak mereka. 

 

Pernah nonton acara televisi Super Nanny 911 yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta? Di setiap episode acara televisi itu, tercermin beragam model kegagalan anak dalam mendidik dan mengarahkan anak, sehingga anak memiliki sikap atau perilaku yang susah diatur, cenderung melawan / membantah orang tua, serta "melecehkan" kewibawaan orang tuanya.

 

Dalam artikel berjudul Merubah Perilaku Anak yang dimuat di www.preventionindonesia.com, seorang ibu rumah tangga bernama Vina menulis tentang curahan hati temannya dalam mendidik anak : "Ternyata tidak ada bedanya antara mendidik anak usia 2 tahun 6 bulan dengan anak yang sudah berusia  18 tahun. Sama-sama rumit dan amat melelahkan".

 

Seorang psikolog anak asal Tucson Amerika Serikat, DR. Kevin Leman, dalam bukunya yang berjudul Have A New Kid By Friday mengatakan, perubahan sikap atau perilaku anak (kearah yang kurang baik), bisa terjadi karena orang tua tidak konsisten dengan perkataan dan tindakannya sendiri. 

 

Ada banyak orang tua, dalam rangka menciptakan rasa nyaman anak untuk bisa meniti tangga keberhasilan dan kemajuan hidup anaknya, selalu menuruti setiap keinginan anak atau memenuhi segala kebutuhan yang dinilai diperlukan oleh anaknya.

 

Lalu tidak sedikit pula orang tua yang membebaskan anaknya sejak masih berusia belia, untuk tidak melakukan serangkaian tugas ataupun pekerjaan yang bisa dilakukan anak di rumah. Semenjak dari bangun tidur, orang tua sudah bertindak sebagai "pelayan" bagi anaknya. Kesan yang muncul, anak hanya terima beres saja. Padahal, dampak yang ditimbulkan atas "cara orang tua menunjukkan rasa sayangnya kepada anak" dengan cara demikian, membuat anak menjadi tidak perduli dengan keadaan dan kondisi di rumahnya. 

 

Tanpa disadari, sesungguhnya tindakan orang tua seperti itu membuat anak tidak memahami tugas dan tanggung jawab mereka sebagai anak. 

 

Hal lain yang bisa menjadi penyebab perubahan sikap atau perilaku anak kearah yang negatif terjadi karena orang tua "tidak terbiasa" untuk menyampaikan pujian serta memberikan dorongan semangat kepada anaknya.

 

Ada banyak orang tua yang "pelit" untuk mengucapkan kata pujian kepada anaknya. Kata pujian tidak harus (baru) terucap saat anak mereka berhasil mengukir prestasi. Jika anak berhasil menyelesaikan segenap tugas yang diserahkan orang tua kepadanya dengan baik, maka tidak ada salahnya apabila orang tua menyampaikan kata pujian pada anak, sehingga anak tahu, kalau tindakannya itu merupakan sebuah tindakan yang benar.

 

Selain itu, tidak sedikit pula orang tua yang "enggan" memuji anaknya di depan orang lain, atau tidak pernah menyampaikan dorongan motivasi kepada anak, sehingga dapat meningkatkan semangat juang anak untuk bisa mencetak prestasi atau tampil dengan nilai lebih pada hal-hal tertentu, yang bisa menghadirkan kebanggaan tersendiri, baik pada diri anak, pada orang tuanya, maupun pada keluarga besarnya. 

 

Para orang tua ini beranggapan, memuji anak dihadapan orang lain merupakan sebuah tindakan yang tidak penting untuk dilakukan, karena mereka tidak ingin kalau suatu saat nanti, pujian yang telah mereka nyatakan diharapan orang lain (dengan penuh kebanggaan) itu, akan menjadi batu sandungan bagi mereka apabila kenyataan membuktikan, kalau sikap, perilaku, atau prestasi anak, ternyata tidak sesuai dengan ungkapan pujian yang pernah mereka nyatakan.

 

 

III. Tindakan yang Harus Dilakukan Orang Tua

 

Orang tua tidak akan menyampaikan keluhan dan rasa khawatirnya, apabila perubahan sikap atau perilaku anak, sesuai dengan harapan serta pola didik yang mereka kembangkan / arahkan semenjak anak masih berusia balita. Beda halnya apabila perubahan sikap atau perilaku anak mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif. Apabila hal itu terjadi, akan muncul sikap protektif dari orang tua.

 

Dalam waktu singkat, orang tua akan ada penyaringan secara ketat terhadap teman-teman sepergaulan anak, dan terhadap aktifitas-aktifitas apa saja yang boleh atau bisa dilakukan / diikuti oleh anaknya, Bahkan tidak sedikit pula orang tua yang melakukan pemaksaan kehendak, dengan mencabut / mengurangi hak-hak serta kebebasan anak untuk berekspresi. 

 

Mungkin para orang tua lupa, cepat atau lambat, perubahan sikap atau perilaku pada diri anak akan terjadi juga. Pada dasarnya, ini adalah sebuah keadaan yang alamiah, karena setiap orang, pasti mengalami perubahan.

 

Perubahan sikap atau perilaku seseorang bisa terjadi kapan saja. Bahkan perubahan bisa terjadi sejak anak masih balita. Semua tergantung pada pola didik dan kebiasaan yang dikembangkan orang tua dalam beraktifitas serta dalam mendidik anaknya, dan bagaimana seorang anak dapat menyikapi dengan baik beragam problematika kehidupan yang dilihat, didengar, dibaca, atau dihadapinya sendiri.

 

Kemajuan atau kualitas hidup seseorang bisa saja meningkat, tetap sama, atau mengalami penurunan. Akan tetapi, tidak demikian dengan pola sikap atau perilakunya : bisa tetap memiliki tata krama serta menjalani pola / gaya hidup yang sehat dan benar, atau tidak.

 

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap orang tua pada saat melihat adanya perubahan sikap atau perilaku yang terjadi pada diri anaknya?

 

Faktor terpenting dalam menyikapi perubahan sikap atau perilaku anak kearah yang kurang baik, terletak pada ada atau tidaknya "deteksi dini" orang tua terhadap perubahan tersebut. Dalam hal ini, orang tua perlu tahu apa yang menjadi penyebab atau pangkal persoalannya.

 

Sebagian besar perubahan sikap atau perilaku anak, tidak terjadi secara drastis. Pasti ada fase atau keadaan yang mengawali adanya perubahan sikap atau perilaku pada anak.

 

Hal kedua yang tidak kalah pentingnya adalah soal pola pendekatan. Berikan perhatian yang besar, sebagai bentuk keperdulian mereka terhadap masalah atau kondisi penuh emosional yang sedang dihadapi anak. Orang tua harus menghadapinya dengan sikap tenang, penuh kesabaran, dan berlaku layaknya seorang teman kepada anak.

 

Bangunlah suasana penuh keakraban, lalu bicaralah dari hati ke hati dengan penuh kelembutan. Tunjukkan rasa kasih orang tua kepada anak, sehingga anak bisa menyampaikan hal-hal yang mengganjal di hatinya. 

 

Manfaatkan kedekatan emosional dengan anak agar mereka dapat menyampaikan isi hati dan keluh-kesahnya. Rangkul mereka dengan menjadi pendengar yang baik. Pahami, bahwa anak butuh untuk didengarkan pada saat itu. Biarkan mereka bercerita atau menyampaikan argumentasinya hingga usai.

 

Selanjutnya, lakukan dialog secara terbuka, namun tetap mengendalikan jalannya pembicaraan. Maksudnya disini, arahkan pembicaraan menjadi suatu dialog yang sehat, dimana orang tua harus bersikap tegas apabila anak mulai menggunakan kata-kata yang kasar atau kata-kata yang tidak selayaknya diucapkan. Namun pada sisi yang lain, orang tua juga harus mau menerima dikritik oleh anaknya. 

 

Pada saat memberikan nasehat, tunjukkan adanya sikap kalau orang tua menginginkan anaknya dapat menjalani hari-hari kehidupannya dengan baik, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari. Itu sebabnya, anak perlu memperhatikan kata-kata orang tuanya. 

 

Terkadang, langkah ini sulit dilakukan oleh para orang tua. Bukan karena anak enggan untuk berbicara, akan tetapi karena cara pandang orang tua yang tidak berubah dalam memandang sosok diri anaknya. Ini merupakan titik kelemahan terbesar orang tua, sehingga upaya pendekatan kepada anak, terasa sulit untuk dilakukan.

 

Meskipun anak sudah memasuki usia remaja atau dewasa muda, banyak orang tua yang tetap memposisikan anak mereka sebagaimana layaknya anak mereka yang masih balita atau bocah usia SD.

 

Kecenderungan yang ada, orang tua akan bertindak layaknya diktator atau mahasiswa senior yang sedang melakukan ospek kepada mahasiswa baru, dimana orang tua tidak mau disalahkan dan tidak mau mengucapkan kata maaf kalau berbuat salah.

 

Banyak orang tua memilih untuk menggunakan gimmick lain sebagai pengganti kata "maaf", seperti membuka satu obrolan mengenai satu hal kecil, yang tidak terkait dengan hal-hal yang dipermasalahkan oleh anaknya. 

 

Sikap layaknya diktator ditunjukkan orang tua dengan tidak pernah memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat menyampaikan argumentasi atau pembelaan diri. Itu sebabnya ada banyak keluarga, dimana antara orang tua dan anaknya, jarang bisa berdiskusi secara sehat. Anggapan yang dibangun orang tua, hanya anak yang harus mendengarkan orang tua, tapi tidak pada posisi sebaliknya.

 

Pemecahan masalah yang dihadapi anak akan sulit dilakukan apabila orang tua tidak bersikap kompromistis. Anak akan sulit untuk diajak bicara terbuka. Keinginan dan harapan anak akan sulit pula diterima orang tua. Padahal, saat itu anak sedang membutuhkan adanya tanggapan yang bisa membuat anak merasa "diterima" oleh orang tuanya.

 

Curahan terbesar yang perlu dihadirkan orang tua adalah perhatian dan pengertian. Tidak hanya orang tua yang bisa capek hati melihat tingkah anaknya, tapi anak juga bisa merasa capek hati melihat gaya orang tua yang tetap arogan dalam mengambil sikap serta pesimistik dalam memberikan tanggapan terhadap keinginan dan harapan anak.

 

Jangan hanya memberikan penekanan kepada anak, akan tetapi orang tua juga harus bisa bertindak fair terhadap pencapaian-pencapaian yang dicapai atau kualitas pribadi terbaik yang ditunjukkan anak dengan menyampaikan kalimat pujian kepada anaknya.

 

Ketulusan orang tua untuk menyampaikan kata-kata pujian kepada anak, akan menimbulkan perasaan berharga di hati anak. Orang tua juga perlu memuji anak di depan orang lain. Tunjukkan rasa bangga orang tua akan anaknya di hadapan orang lain, meskipun anaknya minim akan keberhasilan mencetak prestasi. Cari dan temukan kualitas pribadi terbaik pada diri anak yang bisa dibanggakan di hadapan orang lain.

 

Hal yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan orang tua adalah mendorong semangat juang anak. Pemberian motivasi pada anak, merupakan satu langkah untuk membangun rasa percaya diri anak. Namun sayangnya, ada banyak orang tua yang sering kali alpa untuk melakukannya karena kesibukkan mereka.

 

Pada sisi yang lain, ada baiknya pula kalau para orang tua mengenali teman-teman yang berada dalam lingkungan pergaulan anak, sehingga orang tua dapat mengevaluasi, apakah anak berada dalam lingkungan pergaulan yang sehat atau tidak.

 

Selain terus mengarahkan dan membekali anak dengan pengetahuan yang baik serta sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua ke dalam kehidupan anaknya, upaya pencegahan adanya perubahan sikap atau perilaku anak kearah yang tidak baik dapat dilakukan orang tua untuk mengenali dan kenal dengan baik siapa saja teman, guru, atau orang-orang terdekat anak di luar rumah. 

 

Langkah tersebut perlu diambil, agar orang tua dapat melakukan updating atas aktifitas kehidupan pergaulan anak di luar rumah, sehingga orang tua dapat segera mendapatkan informasi pelengkap (selain informasi langsung dari anaknya sendiri) dengan mencari tahu dari teman, guru, dan orang-orang terdekat anaknya di luar rumah, pada saat mulai mendapati anaknya mengalami perubahan sikap atau perilaku yang tidak sesuai dengan pola pembentukan karakter yang diinginkan orang tua.

 

 

IV. Orang Tua Adalah Penentu Dalam Pembentukan Karakter dan Kepribadian Anak

 

Ketika dijumpai adanya perubahan sikap atau perilaku pada diri anaknya, orang tua perlu mencermati dan menyikapinya dengan bijaksana, penuh ketenangan, penuh kesabaran, penuh pengertian, dan juga penuh dengan rasa kasih sayang. Tidak perlu reaktif atau paranoid, karena perubahan sikap atau perilaku merupakan sesuatu hal yang alamiah dalam kehidupan seseorang.

 

Saat berkumpul dengan anak, orang tua tidak perlu suka marah-marah atau bersikap layaknya diktator, karena sikap seperti itu justru membuat anak merasa tertekan dan tidak diayomi.

 

Anak juga akan sulit untuk diajak berdiskusi atau bicara dari hati ke hati apabila orang tua bisanya hanya menunjukkan sikap layaknya diktator kepada anaknya, karena sikap tersebut akan muncul satu anggapan dalam benak pikiran anak, kalau segenap argumentasi maupun pembelaan yang diajukannya, tidak diterima / didengarkan / diperhatikan oleh orang tuanya.

 

Oleh sebab itu, orang tua perlu menunjukkan adanya penerimaan sikap (acceptance) terhadap "keberadaan" anak, dengan berlaku layaknya orang tua. Jadilah pendengar yang baik atas keluhan, keinginan dan harapan anak.

 

Jangan pula ragu dan enggan untuk memuji dan mendorong semangat juang anak. Adanya kalimat-kalimat pujian serta dorongan semangat akan menimbulkan perasaan bernilai di mata orang tuanya. 

 

Pada sisi yang lain, orang tua juga harus memiliki ketegasan dalam bersikap. Semenjak anak masih balita, orang tua harus sudah menetapkan batasan-batasan tentang hal-hal yang dibutuhkan atau diinginkan anaknya. Jangan biarkan anak memiliki kepribadian yang manja, dimana segenap kemauan atau keinginannya selalu dituruti oleh orang tuanya.

 

Menghadirkan ketegasan dalam bersikap perlu dilakukan, agar anak tahu, kalau ayah dan ibunya merupakan pihak yang memegang kendali dalam mengatur dan menetapkan pola sikap ataupun perilaku yang benar pada diri anak. Dalam hal ini, orang tua perlu sering-sering berkomunikasi dengan anak. Berikan sebanyak mungkin inspirasi kehidupan kepada anak tentang pola dan gaya hidup yang benar serta sehat.

 

Jika kemudian ditemui adanya perubahan sikap atau perilaku anak kearah sikap atau perilaku negatif, keadaan itu merupakan lonceng waktu bagi orang tua untuk mengevaluasi kembali setiap tindakan, pernyataan, maupun batasan aturan yang mereka tunjukkan serta berlakukan pada anak selama ini.

 

Langkah evaluasi perlu dilakukan orang tua, agar upaya pembentukan karakter dan kepribadian anak yang sesuai dengan kehendak serta keinginan orang tua, dapat terus berlangsung. Dalam hal ini, orang tua perlu berlaku konsisten terhadap berbagai pernyataan maupun serangkaian aturan main yang mereka buat.

 

Ada baiknya pula kalau orang tua kenal dengan teman-teman dalam lingkungan pergaulan anak di luar rumah. Kedekatan orang tua pada teman atau orang terdekat anak di luar rumah, selain sebagai bentuk antisipasi terhadap keterlibatan anak dalam lingkungan yang tidak sehat, juga bertujuan untuk dapat memperbaharui pengetahuan orang tua terhadap aktifitas serta perilaku anak di luar rumah.

 

Hal ini perlu dilakukan orang tua, karena setiap upaya serta aktifitas yang dilakukan, selayaknya mempunyai makna strategis serta berpengaruh dalam suatu rangkaian proses (kehidupan) yang dijalani saat ini dan di masa yang akan datang (prinsip Kodawari orang Jepang). 

 

Upaya orang tua dalam mendidik anak sehingga memiliki karakter dan kepribadian yang baik, akan banyak sekali menghabiskan energi. Namun semuanya itu tidak akan berakhir dengan sia-sia atau kekecewaan, karena segenap perhatian, dukungan, dan keintiman suasana yang selalu dihadirkan orang tua, akan menghindarkan anak untuk menyerap pola sikap atau perilaku yang tidak baik.

 

Jadilah orang tua yang mendidik anak secara otoritatif, dimana anak diberikan kebebasan untuk memformulasikan segenap arahan yang orang tua berikan, sehingga anak dapat menjalani kehidupan dengan pola sikap dan perilaku yang benar.

 

We cannot choose our family but we can choose to love them. Keluarga merupakan tempat awal bagi seorang anak untuk menerima didikan. Gunakan waktu dan kesempatan dalam mendidik anak, untuk menciptakan karakter dan kepribadian yang menarik. Let's start to see a gold in your son / daughter, digging it and let them shine.

 

Selamat mendidik anak. Sukses selalu. GBU.

 

 

.Sarlen Julfree Manurung

 

 

= = =

 

LIBRARY :

1. Buku Have A New Kid By Friday - karya : DR. Kevin Leman.

2. Buku Win The Whinning War And Other Skirmishes - karya : Cynthia Whitham, MSW.

3. Artikel Merubah Perilaku Anak - Karya : Vina (dimuat di www.preventionindonesia.com)

4. Artikel Berubah, Kok Susah? - Karya : Eileen Rachman & Sylvina Savitri

5. Artikel OHANA - karya : Bunga Mega (pendiri komunitas perempuan CeweQuat - www.cewequat.com)

6. Artike Kodawari : The Intention Behind Every Action - karya : Rene Suhardono

Saturday, 1 October 2011

Berlimpah Perbuatan Baik Untuk Masuk Sorga

Entah karena merasa dirinya “kurang kaya” atau karena memang dirinya telah menjadi seorang yang kemaruk (rakus) oleh harta, Gayus Tambunan, tersangka kasus penggelapan pajak, dikabarkan telah “membuang” uangnya sebesar Rp. 4 milyar (dalam bentuk dollar Singapura), karena (katanya) telah ditipu oleh rekan sesama tahanan yang mengaku bisa melipatgandakan uangnya.

Hingga kini, belum ada pihak yang dapat memastikan tentang kebenaran berita itu. Namun banyak anggota masyarakat yang menyangsikan kebenaran cerita yang dikemukakan Gayus kepada media.

Ada yang mengatakan, Gayus sedang mencari sensasi belaka, supaya para hakim yang mengadilinya, tidak memasukkan penyitaan atas harta kekayaannya, ke dalam amar putusan mereka. Lalu ada pula orang yang mengatakan, kalau Gayus sedang mencoba menarik simpati masyarakat, yaitu dengan membangun opini publik yang ingin mengatakan, kalau kini dirinya sudah jatuh miskin.

Tidak sedikit pula anggota masyarakat yang percaya, kalau uang sebanyak itu diperbolehkan petugas LP Cipinang untuk dibawa masuk ke dalam kamar selnya. Kecenderungan yang ada, uang sebanyak itu habis dipakai untuk menyuap petugas LP agar dirinya bisa pulang ke rumah untuk bertemu anak dan isterinya, atau agar dirinya bisa plesiran di luar LP, menikmati kebebasan tanpa pengawalan.    

Nampaknya, uang telah membutakan mata hati serta mata iman seorang Gayus Tambunan. Dirinya telah menjadi seorang anak manusia yang menghamba kepada uang (slave of money), sehingga tak lagi berpikir secara logis atau mempersoalkan, bagaimana caranya mendapatkan uang.

Uang juga membuat Gayus lupa, kalau Tuhan merupakan sumber karunia kehidupan, dimana dirinya lebih mempercayai, kalau rekannya satu sel itu, mempunyai kuasa yang sama dengan Tuhan, karena mengaku bisa menggandakan milyaran uang yang dimiliki Gayus, dalam waktu singkat, tanpa bekerja atau melakukan aktifitas investasi.

Fakta, memang seperti itulah sifat dari sebagian anak manusia di dunia ini. Mata manusia nyaris tak berkedip apabila ada yang menjanjikan, bisa memberikan keuntungan finansial berlipat ganda dalam waktu singkat (cepat kaya), tanpa harus capek-capek bekerja, tanpa harus merintis usaha terlebih dahulu, maupun melakukan investasi terlebih dahulu.

Setiap Orang Ingin Hidup Layak

Siapa sih orang yang tidak menginginkan, segenap mimpi, angan-angan maupun harapannya, dapat terwujud? Apalagi kalau terwujudnya mimpi, angan-angan, maupun harapan itu, bisa dicapai dalam waktu (relatif) singkat.

Demikian pula dengan Gayus Tambunan dan sejumlah pelaku tindak pidana korupsi. Mereka adalah orang-orang yang tak mampu menahan godaan untuk cepat kaya secara instan. Selain itu, sebagian dari mereka ingin melepaskan bayang-bayang kemiskinan yang membelenggu mereka selama ini.

Fakta, tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin tetap hidup miskin hingga hembusan nafas yang terakhir. Terlahir sebagai anak pertama dari orang tua tak mampu, membuat Gayus ingin menggapai hidup sejahtera. Namun sayangnya, Gayus memilih cara-cara instan untuk cepat kaya.

Aahhh... Coba uang Rp. 4 milyar itu, diberikan Gayus kepada orang-orang yang saat ini membutuhkan modal usaha. Mereka pasti senang apabila ada orang yang mau membantu mereka untuk bisa memperbaiki kualitas hidup mereka, yang penuh dengan derita : hidup segan, mati pun tak mau.

Fakta, ada jutaan orang masyarakat Indonesia, hidup dalam garis kemiskinan (bahkan dibawah garis kemiskinan). Mereka mengalami kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ketika kemiskinan membelenggu, pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari sering kali sulit tercapai. Penyebabnya, karena penghasilan yang mereka peroleh, jauh dari kata mencukupi. Apabila hari ini bisa makan (walaupun ala kadarnya), belum tentu esok hari ada makanan yang bisa disantap. Perut kenyang karena makan angin doang...

Urusan mengisi perut, memang jadi prioritas utama. Meskipun penting, menyekolahkan anak-anak ditempatkan pada urutan ke sekian. Demikian pula dengan tempat tinggal yang layak huni atau baju yang layak pakai. Semua berlaku apa adanya saja.

Hal yang paling menyedihkan, orang miskin itu.. gak boleh sakit, karena mahalnya biaya pengobatan di negeri kita. Kalau sakit, antara berobat seadanya, atau pasrah saja. Ngenes banget...

Fakta, kemiskinan hanyalah berisikan derita. Antara derita yang satu, berpadu dengan derita yang lainnya. Itulah sebabnya, dapat menjalani kehidupan yang layak, merupakan kondisi atau keadaan yang diimpikan dan dicita-citakan semua orang.   

Berlimpah Perbuatan Baik Dalam Hidup Yang Berkecukupan

Bersyukurlah kepada Tuhan kalau saat ini Anda tidak hidup kekurangan. Seseorang yang tak pernah lupa mengucap syukur di dalam kehidupannya, adalah orang yang menyadari arti keberadaan Tuhan di dalam hidupnya.

Mungkin Anda tidak hidup dengan berkelimpahan harta. Namun Anda memiliki kemampuan untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup Anda sehari-hari. Setidaknya, Anda masih dapat makan 3x sehari, atau di saat perut Anda lapar.

Tentu saja, kondisi Anda lebih baik dibandingkan mereka yang tidak memiliki kesempatan yang sama dengan Anda. Oleh sebab itulah, di saat Tuhan memberkati Anda dengan hidup yang berkecukupan seperti sekarang ini, hadirkan suatu pola, sikap atau gaya hidup yang tidak berlebih-lebihan.

Lihatlah orang-orang miskin di sekitar Anda. Tidak ada seorang pun dari orang-orang miskin itu yang “menikmati” kemiskinan hidupnya. Mereka juga ingin merasakan kesenangan hidup seperti Anda : merasakan berbagai menu makanan enak, ingin tinggal di rumah yang nyaman walau tidak mewah, dapat pergi berwisata atau membeli barang-barang yang diinginkan, dan lain sebagainya.

Dalam realita kehidupan, kaya dan miskin merupakan keadaan yang terpisahkan oleh sebuah jurang lebar lagi dalam. Padahal, pemisahan selebar jurang itu, merupakan buah pola pemikiran manusia.

Adanya kesenjangan sosial ditengah-tengah masyarakat, terjadi karena orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi baik, menutup rapat-rapat pintu sikap empati mereka kepada sesama. Mereka cenderung menghindari, adanya persinggungan secara langsung dengan individu ataupun kelompok masyarakat ekonomi lemah.

Mereka berlaku diskriminatif dan senang menekan, bergaul dalam lingkup kelompok-kelompok kecil yang bersifat eksklusif, dan menerapkan prinsip-prinsip nepostisme sebagai langkah antisipatif untuk menjaga kenyamanan mereka beraktifitas agar tetap berada dalam lingkup yang terbatas.  

Bisa dibilang, sebagian besar orang kaya, cenderung berlaku protektif dan bersikap resisten terhadap kelompok masyarakat ekonomi lemah, yang dianggap bisa mengganggu ketenangan dan citra hidup mereka. Oleh sebab itulah, banyak dari antara mereka yang sengaja membangun “tembok pemisah” dari orang-orang yang dianggap bisa mengganggu ketenangan mereka.

Padahal, kondisinya akan terasa berbeda, apabila setiap orang yang hidupnya telah mencapai taraf berkecukupan, tidak ragu untuk berbagi kasih pada sesama, mengulurkan tangan bagi yang lemah, dan merangkul orang-orang yang masih hidup dalam kemiskinan, sehingga tidak akan ada lagi kisah kesenjangan yang membumi.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kemampuan dan kualitas hidup mereka di kemudian hari. Beberapa contoh diantaranya : memberikan mereka ketrampilan dasar, mengadakan pelatihan gratis, memberikan mereka modal usaha, membantu pendidikan anak-anak mereka, membantu mereka agar bisa menyalurkan bakat serta kemampuan mereka, atau membuka lapangan kerja (mencarikan mereka pekerjaan, memberikan mereka kesempatan untuk bekerja).

Semuanya itu, merupakan tindakan yang bisa dilakukan untuk bisa meningkatkan kapasitas maupun kualitas hidup orang-orang miskin, dengan cara-cara manusiawi, sehingga mereka mampu melewati rintangan hidup, menuju tingkat kehidupan yang lebih layak serta bermartabat.

Jika semuanya itu bisa dilakukan, niscaya tak akan banyak lagi orang miskin yang hidupnya berada di bawah bayang-bayang kesengsaraan dan tekanan hidup, karena diperlakukan sebagai sosok manusia seutuhnya.

Hidup Dengan Banyak Perbuatan Mulia, Untuk Menjadi Pewaris Di Sorga

Tidak ada satu pun pihak yang berhak melarang Anda, untuk dapat menyukakan hati Anda sendiri atau orang-orang disekitar Anda, dengan harta kekayaan yang Anda miliki. Namun bukan pula suatu kesalahan, apabila Anda juga memakainya untuk menghadirkan manfaat atau kemajuan hidup bagi orang lain.

Uang memang bisa membuat Anda menikmati beragam kesenangan yang ingin Anda rasakan. Akan tetapi, ingatlah pula kalau uang juga bisa menghancurkan hidup Anda, terutama apabila Anda tidak mampu lagi mengendalikan diri, untuk mendapatkannya secara berlimpah-limpah tapi mudah, atau dalam menghambur-hamburkannya.   

Ada tertulis : “Cinta uang, adalah sumber dari segala dosa”.

Oleh sebab itu, bagaimana hakekat mendapatkan uang dengan baik, serta bagaimana prinsip-prinsip menggunakan uang secara bijaksana, perlu terus ditanamkan dalam benak pikiran, untuk diingat dan dipergunakan sebagai cermin dalam mengendalikan diri, sehingga uang tidak menjadi sumber dosa bagi kehidupan Anda. Nyata, uang dapat pula melumpuhkan sendi-sendi kebebasan hidup Anda.

Segenap harta kekayaan itu merupakan titipan Tuhan, yang diberikanNya sebagai anugerah. Apabila Tuhan menghendaki, Tuhan juga bisa mengambilnya dari Anda, kapan saja.

Nyata, Anda tidak akan membawa segenap harta kekayaan Anda dalam alam kubur. Kekayaan yang Anda bawa, hanya risalah perbuatan-perbuatan baik yang telah Anda lakukan, dan bagaimana Anda menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup Anda. So, ingatlah selalu kalau Tuhan itu ada.

Apabila Anda sudah hidup berkecukupan, perkaya juga jalan hidup Anda dengan beragam perbuatan baik, yaitu perbuatan yang menyukakan hati Tuhan serta perbuatan yang membawa kebaikkan bagi kehidupan orang lain. Lakukan semua bentuk perbuatan yang berkenan di hadapan Tuhan.

Fakta, apabila Anda senang melakukan perbuatan baik, hati Anda akan dipenuhi oleh sukacita. Rasa sukacita Anda tidak akan pernah berakhir, karena Tuhan berkenan untuk menerima Anda menjadi warga Sorga, setelah melihat panjangnya daftar kekayaan perbuatan baik yang telah Anda lakukan. 

Apalah arti hidup seseorang yang berlimpah-limpah harta kekayaan dan bermandikan kesenangan, namun nanti Tuhan menganggapnya miskin dalam perbuatan baik?  

Beriringan jalan dengan perbuatan baik, jangan lupakan waktu untuk beribadah pada Tuhan. Jadilah orang yang tahu mengucap syukur pada Tuhan, jadilah orang yang selalu menyediakan waktu untuk mendekatkan diri pada Tuhan, dan jadilah orang yang menjalankan perintah-perintahNya dalam alur kehidupannya.

Orang-orang yang senang bergaul dengan Tuhan, adalah pribadi-pribadi manusia yang takut berbuat dosa. Sedangkan orang yang takut berbuat dosa, tidak akan mengilhami hati dan pikirannya untuk maruk harta, karena dirinya tahu, Tuhan akan melimpahi hidupnya dengan berkat-berkatNya. 

Fakta dan nyata, pernyataan diatas bukanlah omong kosong, sebab ada tertulis dalam FirmanNya : “Carilah Aku dan kebenaran di dalam namaKu, maka Aku pun akan memberkati hidupmu.”

Apabila Anda mampu menjaga sikap Anda dengan mengekspresikan beragam perbuatan baik, maka hati dan hidup Anda akan selalu diliputi rasa sukacita serta kebahagiaan. Dalam menjalani hidup ini... jangan hanya berpangku tangan, jangan hanya mencari aman.

You must out of the box. Make it your mind free  from fear of living poor. Why?

Pertama, karena kebahagiaan seseorang itu, tidak dinilai dari seberapa banyak uang maupun harta kekayaan yang dimilikinya. Uang memang diperlukan, namun uang bukanlah segala-galanya.

Kedua, kebahagiaan hidup akan Anda peroleh serta rasakan, apabila Anda mendekatkan diri kepada Tuhan, karena Tuhan adalah sumber berkat dan juga karunia. Cukup dengan taat menjalankan segenap perintah-perintahNya, maka IA akan memberkahi hidup Anda, IA akan mencukupi kebutuhan hidup Anda.

Jadilah bagian dari orang-orang yang senang berbuat baik. Jadilah orang yang namanya telah dicatat sebagai warga Sorga, oleh karena sikap, perbuatan, dan perilakunya, sesuai kehendak Tuhan.

Selamat berkarya di jalan Tuhan. Selamat beraktifitas. Tuhan memberkati Anda.

 

.Sarlen Julfree Manurung

Saturday, 16 July 2011

TAWURAN ANTAR WARGA

Beberapa minggu belakangan ini, tawuran antar warga, kembali marak di Jakarta. Awal bulan Juli 2011 ini, dalam 3 hari, terjadi tawuran antar warga di 3 lokasi yang berbeda : di Cilincing, Jakarta Utara (tanggal 1 Juli 2011), di kawasan padat penduduk Johar Baru, Jakarta Pusat  (tanggal 3 Juli 2011), dan di sekitar Pasar Rumput, Jakarta Selatan (tanggal 2 – 3 Juli 2011).

Aksi tawuran antar kelompok massa juga terjadi di Badung, Bali (penyebabnya, saling ejek di status facebook), dan tawuran antar mahasiswa di dalam area kampus Universitas Pattimura, Ambon – Maluku (penyebab tawuran tidak jelas).

Berdasarkan catatan Polda Metro Jaya, hingga bulan Juli 2011 ini, telah terjadi 36 kali aksi tawuran antar warga di Jakarta, dimana 32 diantaranya, terjadi di Johar Baru.

Kelompok-kelompok masyarakat yang terlibat tawuran massal, biasanya terjadi di kalangan pelajar, antar anggota genk atau kelompok preman, antar kelompok etnis masyarakat, dan antar masyarakat kampung (wilayah pemukiman), seperti yang terjadi dalam tawuran antar warga di Cilincing, Johar Baru, disekitar Pasar Rumput, serta antar warga di Badung - Bali.

Hampir semua pemicu tawuran massal, adalah masalah-masalah sepele. Sebagian besar peristiwa tawuran massal, berawal dari adanya perasaan tersinggung (tidak terima) sekelompok warga karena diejek oleh anggota kelompok warga lainnya : saat berpapasan di jalan, saat menonton atau sedang bertanding sepak bola, dll.

Sedangkan penyebab aksi tawuran antar warga lainnya, berhubungan dengan masalah ekonomi (masalah utang-piutang, perebutan pengelolaan lahan perparkiran, perebutan tempat untuk lokasi berjualan, perebutan kawasan mengompas, dll.) serta adanya permasalahan pribadi yang kemudian berkembang menjadi masalah komunal.

Adanya upaya untuk mencegah terjadinya aksi tawuran antar warga sendiri, bukanlah suatu perkara mudah. Inti dari persoalan yang memicu terjadinya tawuran, tidak lagi jelas. Sejumlah pihak bahkan mengatakan, akar permasalahannya sudah ada sejak lama, bagaikan rasa dendam yang tidak pernah usai. Sedikit saja ada gesekan, peristiwa tawuran antar warga bisa langsung pecah (sulit dicegah).

Meskipun masih disekitaran wilayah yang sama, namun lokasi tawuran tidak hanya di titik-titik lokasi tertentu saja, serta tidak mengenal batasan waktu dan lokasi favorit. Contohnya, aksi tawuran antar warga di daerah Johar Baru, yang bisa terjadi pada pagi hari atau malam hari.

Bahkan, keberadaan ratusan aparat kepolisian bersenjata lengkap yang berjaga-jaga di seputar lokasi tawuran di Pasar Rumput, tidak menyurutkan “niatan” warga untuk tetap tawuran, bahkan tawuran masih berlanjut keesokkan harinya.

Dalam rangka mengantisipasi dan mengurangi aksi tawuran antar warga di Johar Baru, pihak Pemda DKI Jakarta memasang sejumlah perangkat CCTV di sejumlah lokasi strategis. Pemasangan sejumlah “kamera pengintai” tersebut dimaksudkan untuk mempercepat kedatangan pihak aparat keamanan di lokasi, pada saat tawuran akan terjadi atau baru saja terjadi.

Selain itu, hasil rekaman gambar yang diperoleh dari “kamera pengintai”, akan dipergunakan untuk membantu aparat kepolisian dalam mengidentifikasi, menindak, dan mengamankan para provokator serta para pelaku aksi tawuran.

Keputusan untuk memasang “kamera pengintai” diambil karena nampaknya, Pemda DKI, para tokoh masyarakat setempat, serta aparat kepolisian, masih belum menemukan formulasi yang tepat, untuk mencegah terulangnya kembali aksi tawuran antar warga.

Padahal, aksi tawuran antar warga bisa dicegah agar tidak terulang kembali, apabila warga diberikan ruang untuk berekspresi dan berkreasi.

Apabila pihak Pemda DKI Jakarta mau memfasilitasi adanya suatu wadah kegiatan bagi warga untuk bisa menyalurkan segenap bakat, kemampuan, serta minat warga pada suatu bidang usaha maupun ketrampilan tertentu, kiranya akan mendorong warga untuk tidak lagi berkeliaran atau “nongkrong” di pinggir jalan.

Berdasarkan hasil penyelidikan aparat kepolisian, aksi tawuran di sejumlah lokasi di Jakarta, sengaja diciptakan oleh para bandar serta pengedar narkoba yang “beroperasi” atau tinggal di seputar lokasi tawuran, untuk menghindar dari kejaran polisi yang akan menangkap mereka. Saat tawuran terjadi, mereka langsung melarikan diri.

Rata-rata para pelaku aksi tawuran berasal dari keluarga miskin. Kemiskinan membuat mereka tidak memiliki kemampuan keuangan memadai untuk memiliki modal membuka usaha atau melanjutkan sekolah mereka ke jenjang yang lebih tinggi.

Keterlibatan sejumlah warga dalam perdagangan narkoba, ditengarai sebagai upaya masyarakat agar bisa bertahan hidup, dengan memperdagangkannya atau menjadi kurir dari para bandar.

Sebaik apapun upaya mediasi dilakukan, tidak akan membawa banyak manfaat apabila pemerintah tidak berupaya semaksimal mungkin agar warga dapat terlibat dalam berbagai kegiatan positif dan produktif, dengan memfasilitasi kebutuhan warga sehingga mereka dapat meningkatkan kapasitas serta kualitas hidup mereka.

Tawuran seharusnya tidak menjadi fenomena atau dinamika dalam kehidupan masyarakat di ibukota, apabila Pemda DKI Jakarta jeli dalam menyikapi adanya masalah sosial besar yang menjadi latar belakang penyebab terjadinya serangkaian aksi tawuran antar warga.

Masalah sosial mengemuka, karena rendahnya tingkat kesejahteraan anggota masyarakat kota, yang kerap melakukan aksi tawuran. Oleh sebab itu, Pemda DKI Jakarta harus memberdayakan warganya, dengan menghadirkan wadah-wadah kegiatan yang bisa dipergunakan warga untuk berekspresi dan berkreasi. Bagaimanapun, tawuran hanya akan menimbulkan banyak kerugian, bukan manfaat.

Apabila kehidupan warga dapat lebih diberdayakan, kecil kemungkinan bagi warga untuk tidak hidup tertib, karena kualitas lingkungan serta kehidupan mereka, sudah jauh lebih baik.

Warga miskin kota adalah bagian dari kehidupan masyarakat kota. Keberadaan mereka tidak akan menimbulkan polemik berkepanjangan, apabila pemerintah dapat menghadirkan ruang berkegiatan bagi mereka, sehingga mereka dapat melepaskan diri dari tekanan hidup, terutama lagi, menutup peluang adanya pola pemikiran serta perilaku yang destruktif, anarkis, dan tidak bersahabat dengan lingkungan disekitarnya.

Upaya pencegahan harus diikuti dengan adanya keinginan pemerintah untuk membangun warganya agar dapat hidup lebih bermartabat, tidak lagi liar dan mudah tersinggung. Jika arah kehidupan dirasakan lebih jelas serta terarah, niscaya, keinginan untuk tawuran akan hilang dengan sendirinya. 


.Sarlen Julfree Manurung

Friday, 8 July 2011

Menempatkan Dialog Untuk Memperbaiki Hubungan Yang Retak

Tidak ada keinginan untuk bertanya... enggan untuk melakukan sesuatu... merupakan sikap yang bisa ditemui pada pasangan yang sedang mengalami hubungan yang retak.

Kedua pihak sama-sama memilih untuk menahan diri, bersikukuh untuk tidak mendahului membuka pintu ruang komunikasi, karena gengsi menjadi pihak yang pertama kali menyapa. Mereka justru menunggu adanya niat atau inisiatif dari pasangannya, untuk menyampaikan keinginan berdialog.

Masalah membuat hubungan mereka menjadi renggang dan tidak lagi mesra. Penyebabnya, karena kurangnya hasrat serta kemauan diri (proses pembiaran masalah) untuk mencari titik temu dalam menyelesaikan masalah. Ketika hal itu terjadi, dimanakah cinta berada?

Suasana perang dingin tercipta. Keadaan ini perlahan-lahan memicu dimensi permasalahan, semakin berkembang, melebar ke hal-hal lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah yang ada.

Hal ini terjadi, karena masing-masing pihak lebih terpaku pada adanya benih-benh pemikiran negatif dalam benak pikiran mereka, atau karena mereka lebih cepat menerima, mencerna, menelan begitu saja, adanya asumsi, saran, dan masukan berkonotasi negatif (tidak independen), dari orang-orang di sekitar mereka.

Keadaan ini menimbulkan kesan, seakan-akan mereka sedang menghadapi suatu permasalahan yang kompleks atau multidimensional. Bahkan ada pula kesan, salah satu pihak (khususnya pihak yang sedang “bermasalah”) sengaja untuk menggantung masalah.

Saat segala sesuatunya dirasakan semakin runyam saja, akhirnya mereka membuat suatu keputusan (secara bersama-sama atau secara sepihak), untuk mengakhiri jalinan cinta kasih yang telah mereka bangun selama beberapa waktu lamanya.

Apakah memang, putus hubungan merupakan sebuah keputusan terbaik? Banyak yang berpendapat kalau memutuskan untuk mengakhiri hubungan, merupakan keputusan terakhir yang akan mereka ambil. Lalu, kalau ada pada urutan terakhir, kenapa bisa menjadi pilihan pertama? Jawabannya, tidak lain karena adanya hambatan dalam komunikasi.

 

Mengkoreksi Lewat Komunikasi

Langkah-langkah korektif seharusnya dilakukan, untuk mencegah adanya abstraksi pemikiran atau kesalahan-kesalahan dalam menyikapi peningkatan tendensi terhadap suatu keadaan, yang tercipta karena terlalu bersemangat / menggebu-gebu dalam mengimbuhi adanya taklimat pernyataan atau keadaan predictable atau unpredictable yang kelak menjadi simpul permasalahan.

Akan tetapi, langkah-langkah korektif terganjal oleh adanya pemikiran negatif, yang lebih menaungi benak pikiran, sehingga sulit untuk membuat kesepakatan win-win solution secara bersama-sama. Selain itu, sikap emosional dan antipati cenderung lebih mengemuka, sehingga sulit untuk menerima (apalagi mencerna) segenap pandangan, argumentasi, atau alasan yang dinyatakan pasangannya.

Ekspresi kemarahan tidak akan menghadirkan thematik jawaban terhadap beratus-ratus tanda tanya yang bertaburan di kepala. Apalagi kalau inspirasi yang ingin dipertanyakan, hanyalah fatamorgana dari semburat perasaan, yang ringan mengaduh karena penuh prasangka, padahal tanpa landasan.

Tindakan korektif juga terjadi ketika dialog menyertakan pula perasaan hati mencintai yang selama ini ada. Cinta membuat segala sesuatunya berasal dari hati. Saat hati ikut bicara, segala keputusan yang dibuat bersama, didasari oleh adanya kesadaran serta ketulusan hati.

Dalam hal ini, dialog ditempatkan sebagai sebuah upaya, mengembalikan lagi suasana hati agar bisa kembali penuh dengan rasa cinta. Oleh sebab itu, lakukan dengan tulus, bukan karena terpaksa.

 

Sikap Saat Berdialog

Penyelesaian masalah bisa dimulai dengan belajar menerima adanya keluhan dari pasangan. Dalam hal ini, setiap pihak belajar untuk menjadi seorang pendengar yang baik, sehingga bisa merenungkan atau mengkoreksi kembali, apabila ada kesalahan atau tindakan yang kurang tepat untuk dilakukan pada saat masalah mengemuka.

Dialog dapat berlaku efektif apabila masing-masing pihak dapat memberikan kesempatan pada yang lain, untuk mengutarakan isi hati dan argumentasinya. Selain itu, dialog merupakan momentum bagi seseorang untuk mengemukakan pintu prasangka dan alibinya, dengan menyampaikan pertanyaan.

Ruang lingkup permasalahan, tidak pernah lepas dari adanya kecurigaan atau prasangka buruk. Jadi, diharapkan ada jawaban yang bisa meluruhkan segenap keraguan dan pemikiran-pemikiran negatif, karena disampaikan secara jujur, terbuka, serta apa adanya. 

Berkata jujur merupakan konsekuensi dari adanya untuk membangun dialog yang sehat. Sedangkan sikap menutup-nutupi atau tidak mengakui adanya nilai-nilai kebenaran dari pernyataan yang dibuat pasangan, cenderung hanya akan meluruhkan kepercayaan pasangan, utamanya, di masa-masa yang akan datang.

Sulit rasanya membangun kembali kepercayaan dari pasangan, apabila kejujuran tidak ditempatkan sebagai “panglima” dalam menyampaikan kebenaran. Dalam sejumlah peristiwa, adanya pembelaan yang memang didasari oleh fakta atau keadaan yang ada, pasangan akan lebih  menterjemahkannya sebagai “dalil” atau “dalih” semata.

Pernah sekali saja berkata tidak jujur (apalagi melakukannya berulang kali), hanya akan membuat pasangan tidak membuka lebar-lebar pintu hatinya, untuk menerima pernyataan dari pasangannya, karena, seseorang yang emosinya sedang goyah, sulit untuk mengetahui adanya kebenaran jawaban dari pasangannya, meskipun untuk mengetahui adanya kebenaran jawaban tersebut, tidaklah sulit.  

Gambaran atas nilai-nilai kebenaran itu bisa dilihat dari : Kelancaran pasangan dalam menyampaikan jawaban (tekanan serta warna suara cenderung datar, tidak banyak berubah), adanya konsistensi dalam berucap, dan mampu menerangkan bagaimana urut-urutan alur peristiwa dengan tepat.

Kebenaran suatu jawaban juga dapat terlihat dari bahasa tubuh serta adanya kelekatan mata dalam memandang, meskipun sedang dalam posisi terintimidasi.

Seseorang yang tidak berkata jujur, akan menampilkan bahasa tubuh tidak tenang (terlihat gelisah), serta mata yang tidak berani beradu pandang.

Permasalahan juga bisa muncul karena salah satu pihak sengaja mengeliminasi adanya kesetaraan diantaranya keduanya. Terkadang, kondisi ini tetap ada dan terus berlanjut ketika dialog dilakukan.

Dalam bukunya yang berjudul “7 Ciri Pria Tidak Dewasa”, Ir. Eddy Leo, MTh. Menyebut adanya sikap mau menang sendiri (karena mengerupsi adanya nilai-nilai kesetaraan dalam hubungan), merupakan nafsu seseorang untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Ego itu laksana menimbang dengan menggunakan timbangan dan takarannya sendiri. Jadi tidak aneh kalau seseorang yang sedang menunjukkan keegoisan sikapnya, tidak ragu mengorbankan orang lain demi mendapatkan impulsi yang lebih besar.

Ketika dialog dilakukan, ego ditempatkan sebagai sebuah upaya menguasai suasana, dimana hanya memberikan sedikit saja kesempatan pada pasangannya untuk berbicara, dengan cara memanipulasi keadaan, dan mengisinya dengan pembenaran-pembenaran atas pilihan sikapnya selama ini.

Padahal, jika lebih mengedepankan sikap egois, hanya akan meminimkan keluarnya pengakuan atas kebenaran alibi, argumentasi, dan pernyataan yang dikemukakan pasangannya, atau yang terungkap sepanjang dialog.

Orang yang egois sulit untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Fakta membuktikan, sikap egois berada pada nomor urutan atas, sebagai penyebab kurang harmonisnya hubungan yang dibangun seseorang dengan kekasih hatinya. Dalam hal ini, berlaku egois bukanlah tanda hati yang mencintai.

“Sebab dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”  - Yakobus 3 : 16

Dialog yang sehat dapat terbangun apabila setiap pihak tidak mengangkat sikap egoisnya pada saat mencoba memperbaiki hubungan yang retak. Lupakan saja adanya hasrat untuk bersikap egois pada pasangan apabila ingin hubungan dengan kekasih hati, kembali harmonis.

Bibit permasalahan terkadang berawal dari adanya sikap emoh untuk mengakui kesalahan (meminta maaf). Enggan meminta maaf karena telah melakukan perbuatan salah, merupakan bagian dari sikap egois manusia.

Mengakui perbuatan salah, bukanlah sesuatu hal yang hina, melainkan sikap seorang ksatria. Harga diri tidak akan tercabik karena harus menyatakan permintaan maaf atas perbuatan salah yang telah dilakukan. Itu wajib hukumnya, karena kata “maaf” merupakan ungkapan hati yang memerdekakan, mendamaikan, dan menentramkan suasana (hati atau keadaan) yang sedang runyam.

Selain itu, menyampaikan permohonan “maaf”, bukanlah pilihan sikap yang akan merendahkan diri sendiri, akan tetapi merupakan suatu representasi dari adanya kesadaran diri, kalau tetap bersikeras untuk mengilhami diri dengan aneka perbuatan salah, merupakan tindakan membohongi diri sendiri.

Bagaimana pun, awal kisah dari adanya kebersamaan dengan kekasih hati, tidak terjadi begitu saja, atau tanpa proses perkenalan atau pendekatan terlebih dahulu. Jadi, jangan ragu atau emoh untuk meminta maaf jika berbuat salah.


Komunikasi Sebagai Alat Mempersatukan Kembali

Peranan komunikasi dalam menciptakan harmonisasi hubungan diantara 2 anak manusia yang saling mengasihi, amatlah besar.

Dalam sejumlah peristiwa, hubungan yang retak terjadi karena komunikasi tidak lagi ditempatkan sebagai media untuk membina dan menjaga kelanggengan hubungan.  

Selain itu, keretakkan hubungan terjadi karena salah satu pihak menterjemahkan adanya situasi atau keadaan yang terasa berbeda atau dianggap tidak lagi sesuai dengan keinginan (contohnya : tiba-tiba jarang memberikan kabar – kirim SMS, menelpon, BBM-an), hingga akhirnya, muncul keraguan, kecurigaan, dan serangkaian inspirasi pemikiran negatif.

Terlepas dari adanya faktor-faktor yang memungkinkan hal itu terjadi (dengan alasan yang masuk di akal dan dapat dipertanggungjawabkan, tentunya), membangun suatu pola komunikasi yang sehat, selayaknya ditempatkan sebagai komitmen bersama, sehingga tidak muncul adanya suatu pemikiran atau upaya untuk saling menyakiti, dengan dalil, maksud, serta alasan apapun.   

Ingatlah selalu, ketika hubungan dengan kekasih hati baru terbentuk, semuanya itu diawali dengan menghadirkan keinginan serta niatan baik, yang dibungkus dengan buah-buah ketulusan hati, dalam suatu kerangka bingkai komunikasi. Tidak ada orang yang terinspirasi membangun hubungan, untuk menyakiti pasangannya.

Jika hubungan itu diawali dengan hati yang mencintai pasangan, kenapa harus dijalani atau diakhiri dengan saling menyakiti?.  

Kesalahan mungkin membuat hubungan dengan kekasih, menjadi retak. Namun itu bukanlah berarti, kesalahan tidak bisa dikoreksi atau kelak akan terulang kembali. Saat ada masalah yang mengganjal keharmonisan hubungan, segeralah temukan solusi penyelesaikan masalah, dengan melakukan dialog yang sehat bersama pasangan.

Dalam hal ini, setiap orang bisa saja menutup matanya untuk tidak melihat (pura-pura tidak memperhatikan keberadaan pasangan), akan tetapi, setiap orang tidak dapat menutup hatinya untuk tidak merasakan (kehadiran / keberadaan cinta kepada pasangan). Lihatlah kedalaman hatinya, bukan apa yang telah ditampilkan. Belajarlah dari kesalahan, dengan menghadirkan komunikasi, dari hati ke hati.


.Sarlen J. Manurung 

Thursday, 30 June 2011

DUA KUTUB IMAGE ORANG BATAK

Beberapa bulan belakangan ini, pemberitaan media massa cukup ramai mengangkat berita tentang penahanan sejumlah orang Batak oleh KPK dan aparat Kepolisian Ri, karena terlibat kasus manipulasi pajak, merekayasa perkara hukum, korupsi, penipuan, menerima atau memberikan uang suap, dan pembobolan rekening deposito di suatu bank swasta.

Ada yang sudah mengikuti sidang pengadilan, namun ada pula yang status hukumnya masih terduga, sehingga perkara hukumnya masih dalam tahap penyidikan.

 

Kutub Image Negatif Atas Orang Batak

Mereka yang telah ditetapkan sebagai tersangka, diantaranya :

Gayus HP. Tambunan, Haposan Hutagalung, Maruli Pandapotan Manurung (kasus manipulasi pajak), Cyrus Sinaga (kasus rekayasa perkara hukum), RE. Siahaan (kasus korupsi APBD di Pematangsiantar), Monang Sitorus (kasus korupsi APBD Kabupaten Toba Samosir), Panda Nababan, Poltak Sitorus, Baharuddin Aritonang (kasus menerima suap saat pemilihan Deputi Gubernur Senior BI di DPR), Mindo Rosalina Manullang (kasus suap pembangunan Wisma Atlet di Sumatera Selatan), dan Santun Nainggolan (kasus pembobolan rekening deposito PT. Elnusa Tbk di Bank Mega).

Tidak hanya mereka saja. Ada pula sejumlah orang Batak yang sempat menjadi pemberitaan media massa, karena terlibat dalam kasus hukum besar lainnya. Beberapa diantaranya : Marisi Matondang (kasus dugaan korupsi untuk pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kemenakertrans tahun 2008), dan Daniel Sinambela (suami dari artis Joy Tobing) karena terkait kasus penipuan uang senilai Rp. 20 miliar.  

Nama Miranda S. Gultom juga menjadi pemberitaan media massa, karena diduga telah memberikan uang suap kepada anggota DPR agar dirinya terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Akan tetapi Miranda Belum ditahan, karena KPK belum menemukan bukti-bukti kuat untuk menahannya.

Kasus-kasus hukum yang membuat mereka menghuni “hotel prodeo”, memang menonjol dan cukup menyita perhatian masyarakat. Penyebabnya : mereka ditetapkan sebagai tersangka dalam sejumlah kasus tindak pidana berskala nasional, dimana ada konspirasi tingkat tinggi didalamnya.

Lalu, sebagian besar dari antara mereka merupakan tokoh-tokoh masyarakat di negara ini, karena mereka adalah anggota DPR, pejabat negara serta anggota dewan direksi dari suatu BUMN. Ada pula yang namanya baru dikenal masyarakat setelah kasus tindak pidana yang disangkakan pada mereka terbongkar, karena ada dugaan, melibatkan pula tokoh partai politik atau pejabat negara lainnya.

Mereka adalah orang-orang terpandang dan cukup disegani, tidak hanya dalam kalangan masyarakat Batak semata, namun juga hampir di seluruh kalangan masyarakat di Republik ini. Oleh karena posisi atau jabatan mereka, negara memenuhi kebutuhan mereka dengan memberikan berbagai fasilitas, sejumlah tunjangan, serta gaji dengan besaran angka yang lebih dari mencukupi.

Demikian pula dengan para pengusaha. Besarnya penghasilan yang mereka dapatkan dari mengelola atau menjalankan bisnis, tidak akan membawa mereka pada keadaan : mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan hidup.

Satu hal yang pasti, semua orang Batak yang terlibat berbagai kasus tindak pidana berskala nasional tersebut, berasal dari kelompok masyarakat dengan latar belakang pendidikan tinggi.

Apabila mereka ingin bertambah kaya namun dengan cara-cara yang benar, tindakan yang mereka ambil cukup dengan mendayagunakan segenap kharisma, popularitas, serta kemampuan diri mereka dalam menarik simpati orang banyak. Mereka tidak harus melakukan korupsi, tindak penipuan, atau merampok uang orang lain.

Aahhh... apa kata dunia? Ternyata mereka tidak hidup susah, tapi masih juga korupsi, menipu, dan “mencuri” uang orang lain. Mereka seakan-akan tidak punya rasa puas atas pendapatan yang telah mereka terima dari negara, sehingga masih saja serakah, mencari peluang untuk memperkaya diri, bahkan dengan cara tidak halal. Dasar tak tahu malu.

Tindakan mereka telah menurunkan tingkat apresiasi publik kepada orang-orang Batak, hingga tidak lagi berada pada level tertinggi, karena telah muncul satu keraguan atas orientasi kerja serta tingkat kejujuran orang Batak, khususnya, jika berkaitan dengan uang atau “jabatan basah”.

Keraguan itu memang tidak “dicanangkan” secara terbuka, karena penilaian masyarakat cenderung lebih mengarah pada perilaku dan budaya korup dalam diri pejabat dan anggota DPR, secara umum.

 

Kutub Image Positif Atas Orang Batak

Beruntung sekali, orang Batak memiliki Gisheila Ruth Anggitha Nainggolan (16 tahun), Boru Batak yang berhasil mencatatkan prestasi gemilang, lulus SMA dengan nilai ujian tertinggi se-Jakarta. Tentu saja prestasi Gisheila tersebut, mengangkat kembali citra orang Batak yang sempat tercoreng oleh perilaku negatif orang-orang Batak yang terlibat sejumlah kasus hukum besar berskala nasional.

Hasil yang berhasil dicapai siswi SMA 81 Jakarta itu, telah menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi orang Batak. Keberhasilan Gisheila, mengobati hati orang Batak, yang sempat kecewa dengan “ulah” para tokoh-tokohnya.

Lulus dengan nilai tertinggi dalam satu propinsi, tidak terjadi secara kebetulan. Keberhasilan Gisheila itu, diawali dan dijalani dengan tekad, semangat, kerja keras, serta motivasi tinggi. Prinsip ini adalah gambaran umum dari prinsip survival yang diterapkan seluruh orang Batak, dimana pun berada.  

Gisheila menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang pelajar, sehingga tidak membiarkan benak pikirannya terkontaminasi oleh berbagai kesenangan atau keinginan lain, selain berusaha agar tetap fokus belajar, agar bisa masuk Fakultas Kedokteran UI, sebagaimana yang dicita-citakannya.

Kerangka pemikiran seperti inilah, yang membedakan Gisheila dengan siswa-siswa SMA lainnya, dan dengan orang-orang Batak yang terjerembab kasus hukum baru-baru ini. Gisheila merupakan cerita kehidupan orang Batak, yang memiliki kualitas unggul dan layak dijadikan teladan atau contoh baik bagi masyarakat, khususnya kalangan generasi muda.    

Tentu saja, orang Batak tidak hanya memiliki satu orang cerdas seperti Gisheila, namun ada begitu banyak Gisheila-Gisheila lainnya, dengan segudang prestasi, bermoral baik, serta akhlak yang terpuji. Seharusnya, media dapat pula menampilkan informasi atau berita yang bisa dijadikan sebagai model pembelajaran baik bagi masyarakat, sehingga ada perimbangan informasi atau berita yang diterima masyarakat, tidak hanya menyangkut kasus-kasus pelanggaran hukum semata.

 

Dua Kutub Image Itu, Bukan Hanya Milik Orang Batak

Korupsi terjadi karena adanya perilaku konsumtif yang tidak lagi terkendali. Keadaan ini mendorong para pelakunya melakukan hal-hal diluar kemampuan dirinya sendiri.

(Sarwono Kusumaatmadja – Mantan Menteri)       

Image buruk terhadap orang-orang Batak mengemuka, karena ada sejumlah orang Batak, yang tidak mampu menahan diri untuk bisa memperkaya diri sendiri dengan cara-cara instan. Padahal, mereka adalah orang Batak terpelajar dengan penghasilan cukup besar oleh karena posisi atau jabatan yang mereka pegang.

Moral mereka perlahan-lahan tergerus karena mereka membiarkan ada pihak-pihak yang mendekati lalu memanfaatkan kecerdasan, jabatan serta posisi mereka, untuk meloloskan kepentingan pribadi atau golongan tertentu, hingga akhirnya, mereka ikut larung dalam budaya korup.

Untung saja, adanya wacana-wacana yang mendiskreditkan orang Batak, teredam oleh pemberitaan oleh kasus Ruyati dan pengumuman hasil survei oleh Lingkaran Survei Indonesia, terkait pada tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah serta kepemimpinan Presiden SBY. Wacana-wacana itu sendiri mengemuka sebagai bentuk kesimpulan yang menggeneralisasikan perilaku sejumlah orang, ke dalam lingkup komunitas masyarakat yang lebih besar lagi (masyarakat asal tanah Batak).

Tentu saja, anggapan seperti itu, tidak mengaktualisasikan keadaan, yaitu adanya sikap atau perilaku sejumlah orang Batak yang mencerminkan citra komunitas masyarakat Batak seluruhnya. Kalau pun ada bagian dari anggota komunitas masyarakat yang berperilaku buruk, sifatnya kasuistik belaka.

Dalam hal ini, adanya pengungkapan sejumlah kasus tindak pidana berskala nasional yang dilakukan oleh sejumlah orang Batak dalam rentang waktu yang berdekatan, juga bersifat kasuistik. Terlepas dari adanya perlakuan “tebang pilih” dalam pengungkapan kasus tindak pidana oleh KPK dan polisi, kondisi tersebut mungkin saja terjadi karena memang sudah saatnya kasus-kasus tersebut diungkap.

Walaupun dilihat dari sudut pandang kasus per-kasus, penahanan mereka tidak bisa dipakai sebagai tolak ukur untuk memunculkan suatu anggapan, adanya tipikal kesamaan sikap serta perilaku orang Batak itu sebenarnya dan seluruhnya dengan sikap serta perilaku para pelaku tindak pidana berskala nasional tersebut.

Contoh nyata kalau keadaan kesamaan tipikal tersebut tidak dapat diberlakukan, dapat dilihat dari hasil pencapaian yang diraih Gisheila Nainggolan, sebagai pemegang nilai tertinggi hasil ujian tingkat SMA se-Jakarta. Gisheila berhasil meretas alur pemikiran yang ingin memposisikan kalau orang Batak merupakan kumpulan pelaku-pelaku tindak pidana.

Antara kasus hukum yang dihadapi sejumlah orang Batak, serta keberhasilan yang dicapai Gisheila, berada pada koridor yang berbeda, dan mewakili cerminan perilaku yang berbeda pula (terpuji dan tidak terpuji), sehingga tidak mempengaruhi fokus pemikiran serta langkah kehidupan orang-orang Batak lainnya.

Rekam jejak kehidupan orang Batak, hampir sama dengan kelompok masyarakat lainnya. Ada masa penuh gemilang dan ada masa harus merangkak kembali dari bawah. Demikian pula dalam berkarir. Ada yang konsisten menjaga sikap serta perilaku jujur, namun ada pula orang-orang Batak yang ingin cepat kaya dengan mendapatkan harta kekayaan secara instan.

Semua bersifat normatif dan individual, tidak terkait dengan budaya serta adat istiadat orang Batak. Kondisi yang ada, tidak ada yang seratus persen mulus serta tanpa prahara kehidupan, karena orang Batak, juga manusia yang memiliki masalah dan menghadapi kendala kehidupan, sama seperti warga masyarakat yang lainnya.

Oleh sebab itulah, seharusnya ada pemisahan pola pemikiran atas perbuatan individual seseorang, dengan konsep budaya serta alam pemikiran suatu komunitas masyarakat, agar tidak lagi dianggap sebagai mewakili citra perilaku seluruh anggota kelompok masyarakat mereka. Pelanggaran hukum yang mereka lakukan, merupakan buah dari nafsu dan keinginan pribadi yang tak bisa diredam.

Adanya sejumlah orang Batak yang terlibat kasus tindak pidana berskala nasional, patut disesali. Nasi sudah jadi bubur. Sekarang tinggal bagaimana orang Batak, khususnya generasi muda Batak, dapat memilah-milah antara perbuatan yang baik dan tidak baik, khususnya dalam mencari nafkah.

Cerminan sikap serta perilaku manusia, ada yang membawa image positif, dan ada pula yang image negatif. Nenek moyang orang Batak tidak pernah mengisyaratkan kepada generasi penerusnya untuk mensiasati beratnya alur jalan kehidupan dengan melanggar hukum. Dasarnya cukup jelas, karena setiap generasi penerus keluarga keturunan suku Batak, adalah Anak Ni Raja dan Boru Ni Raja.

Jadi, orang Batak harus bisa menunjukkan sikap dan perilaku layaknya keturunan raja, bukan malah bertindak kriminal dengan memenuhi nafsu atau keinginan memperkaya diri semata.

 

 

.Sarlen J. Manurung