Monday, 4 May 2009

My Prosa : Perempuan, Bahagia, Cinta

PEREMPUAN, BAHAGIA, CINTA
By : Sarlen Julfree Manurung
(Hasil Gubahan)


Ketika dibilang dirinya cantik,
Dikiranya menggoda... dibilangnya gombal... dibilangnya manis di bibir saja...

Ketika dibilang jelek,
Bilangnya menghina... dikatakannya kasar... dibilangnya gak romantis... dikecam habis...

Kalau dibilang lemah,
Tak akan berhenti protes... pelan-pelan menunduk nangis... dibilang gak punya perasaan...

Waktu dikatakan perkasa,
Ngakunya emansipasi... ceritanya biar ditakuti... maksudnya biar gak digoda...


Maunya diperhatiin setiap waktu,
Kalau nggak, ngambek dehhh...

Inginnya dibilang yang paling cantik,
Kalau nggak, pinggang dicubit dengan muka cemberut...

Hukumnya wajib nelpon, sms dan jemput,
Kalau nggak, dicuekin abisss...

Berharap selalu dibanggakan,
Tapi dirinya sendiri sulit ucapkan bangga... tentang kasihnya...


Suka gak suka, pokoknya harus suka...

Perempuan dengan segenap pernak-pernik kehidupannya...
Ramah, gemulai, indah, bikin resah...
Tak pernah ada kata cukup untuk dapat membahagiakannya
Padahal sebaliknya, perempuan tak mencoba untuk mencari tahu,
Seakan-akan tak pernah memikirkan,
Apakah sang pria bahagia dengan segenap sikapnya...???
Apakah sang pria bahagia hanya diminta membahagiakan...???

Perempuan terkadang lupa,
Ceriwis itu, bukanlah nyanyian nina bobo
Marah-marah itu, bukanlah mimpi indah kala malam menjelang
Larang-melarang itu, bukanlah kesenangan saat di dufan
Dan... Bentak-membentak itu, bukanlah ospek mahasiswa baru...

Cinta itu indah dirasa apabila kamu dan aku tak saling membatasi
Sepertinya halnya mau menerima tapi tak mau memberi

Cinta itu ruang kalbuku - kalbumu
Bukan hanya milikmu, hanya tentangmu, hanya mengarah padamu...

Cinta itu bukanlah argumentasi, tapi hati dalam reality

Cinta itu... terkadang fantasi, tapi bukan ilusi...

Cinta itu... tidak nanti, tapi juga saat ini...

Cinta itu... bahagiaku - bahagiamu...

Yaaa... bahagiaku - bahagiamu... kemarin, sekarang, esok...




Jakarta, May 4, 2009

Sunday, 3 May 2009

Membahagiakan Orang Lain

Salah satu hal yang membuat saya tertarik untuk hampir selalu menyaksikan acara Oprah Winfrey Show yang disiarkan oleh stasiun televisi swasta Metro TV setiap jam 11.00 WIB setipa hari Jum’at hingga hari Minggu, adalah Oprah Winfrey sangat senang sekali membahagiakan orang lain dengan memberikan berbagai kejutan maupun hadiah yang dapat menyenangkan hati para penonton setianya.

Dalam segment pertama Oprah Winfrey Show hari ini (3 Mei 2009), kebahagiaan memang tidak secara langsung Oprah berikan namun dengan bantuan seorang teman baiknya, Celine Dion.

Celine Dion memberikan kebahagian kepada Charice, seorang gadis remaja yang pernah menjadi tamu dalam acara Oprah Winfrey Show, pada episode anak-anak berbakat dan memiliki kemampuan luar biasa, dengan mengundang Charice untuk bernyanyi bersama dalam satu panggung dengannya.

Produser acara Oprah Winfrey Show memasukkan Charice sebagai salah seorang tamu dalam acara Oprah Winfrey Show dalam episode anak-anak berbakat dan memiliki suatu kemampuan atau bakat luar biasa, karena Charice adalah seorang anak yang masih belum menginjak dewasa namun memiliki talenta kemampuan bernyanyi baik. 

Ketika menjadi tamu Oprah, Charice pernah mengaku kalau dirinya mengidolakan artis Celine Dion. Mungkin, oleh karena pengakuannya itu, Oprah meminta Celine Dion untuk dapat mengundang Charice sebagai bintang tamu dalam acara konsernya.

Selanjutnya pada segment yang kedua, Oprah Winfrey memberikan kebahagiaan kepada dua orang perempuan kembar sangat identik. Dikatakan sangat identik, karena selain fisik keduanya sangat mirip, mereka juga memiliki kesamaan dalam banyak hal. Salah satunya ada pada kesamaan dalam penataan kamar dan mainan yang diberikan kepada anak-anak mereka bedua.

Bagi kedua perempuan kembar identik tersebut, Oprah memberikan kebahagiaan dengan memberikan sentuhan berbeda pada kamar tidur mereka masing-masing dengan dibantu oleh Ty, seorang ahli bangunan yang biasa membantu Oprah untuk mewujudkan mimpi atau harapan para bintang tamu acara Oprah Winfrey Show.

Kita juga bisa melakukan sama seperti yang telah dilakukan oleh Oprah, meskipun dalam bentuk yang tidak sama dan tidak sebesar pemberian Oprah untuk membahagiakan orang lain. Kita dapat melakukannya dengan cara yang lebih sederhana.

Membuat orang lain berbahagia, adalah sebuah perbuatan tulus (memberi yang terbaik) yang kita lakukan untuk orang lain, dimana kebahagian yang diperoleh orang lain itu, pada akhirnya akan mendatangkan pula kebahagiaan pada diri kita.

Banyak orang yang merealisasikan upaya-upaya untuk bisa membahagiakan orang lain dengan cara memberikan uang. Sebagai contoh, oleh karena kesibukkannya, sejumlah orang tua memberikan kelimpahan materi atau kesenangan kepada anaknya sebagai ganti kehadiran diri mereka di rumah.

Padahal, seperti yang telah diperbuat Oprah, upaya membahagiakan orang lain dapat pula kita nyataan dengan cara mewujudkan mimpi atau keinginan dari orang lain tersebut.

Menghadiri undangan acara yang diadakan oleh seorang teman atau acara kesenian di sekolah anak, membuatkan kopi dan membawakan kue untuk seorang suami yang sedang sibuk bekerja, menemani anak saat bermain, mengucapkan kata selamat pada saat ada sesuatu hal yang spesial, atau bahkan bisa juga dengan menjadi seorang pendengar yang baik pada saat orang lain sedang menyampaikan curahan hatinya pada kita.

Tentunya, tidak hanya sebatas itu saja. Banyak cara atau upaya yang bisa kita lakukan untuk membahagiakan orang lain. Ada baiknya, direncanakan dahulu, agar diperoleh hasil yang sesuai dengan harapan kita juga, yaitu : orang lain bahagia dengan apa yang telah kita lakukan untuknya atau baginya.

Jadi, bentuknya tidaklah harus materi, namun bisa pula orang lain itu mendapatkan suatu kepuasan batin, seperti sebentuk kebahagiaan yang dialami oleh Charice, yaitu ia dapat berdiri berdekatan (bahkan saling berangkulan) dan bernyanyi dengan Celine Dion diatas panggung yang sama. 

Terlalu mengagungkan materi untuk selalu kita pakai pada saat mencoba untuk dapat membahagiakan orang lain, bukanlah suatu pola pembelajaran yang baik dan dapat kita terapkan di setiap kesempatan. 

Apabila kita bisa membahagiakan orang lain, itu sama artinya kita perduli kepada orang lain. Kita tidak menutup diri kita dan pintu hati kita akan kondisi orang lain. 

Kita menyatakan kasih kita, dan berharap, orang lain itu dapat bahagia oleh karena pemberian atau perbuatan tulus yang kita lakukan.

Landasan dasarnya adalah kasih. Kemudian kita bawa serta ketulusan (keinginan untuk membahagiakan orang lain itu datangnya harus dari hati), dan terkadang pula, perlu ada pengorbanan (pada situasi atau kondisi tertentu). 

Tanpa dilandasi oleh adanya keinginan besar untuk mengasihi orang lain dengan tulus didalamnya, kita tidak bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain.

Bagaimana caranya agar kita bisa melakukan sesuatu untuk membahagiakan orang lain dengan penuh kasih dan tulus, hingga pada akhirnya kita bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain untuk kebahagiaannya?

Jangan pernah berhitung, jangan pernah melihat siapa orang yang akan kita berikan satu kebahagiaan, dan lakukan segala sesuatunya dari dasar hati. Agar kita terbiasa untuk bisa melakukannya, berlatihlah dalam banyak kesempatan yang memungkinkan diri kita dapat membahagiakan orang lain.

Satu hal lainnya, jangan pernah menunggu orang lain mengucapkan terima kasih atas tindakan yang kita lakukan untuk membahagiakan orang lain, karena terkadang, ketika kita tidak menerima ucapan terima kasih itu, yang timbul kemudian, adanya ketulusan itu tiba-tiba sirna dalam sekejap waktu. 

Ada kecenderungan, seseorang yang sedang berbahagia, terkadang lupa untuk langsung mengucapkan kata : terima kasih. Namun ia akan menyampaikannya di lain kesempatan, atau bahkan mengganti ucapan terima kasih itu dengan berupaya membahagiakan diri kita pada saat kita membutuhkan suasana hati dan pikiran yang bahagia.

So, tidak terlalu sulitkan?

Nah, sekarang, sudahkah kamu melakukan sesuatu hari ini untuk membahagiakan orang lain? Kalau belum, kenapa harus menunggu hari esok? 

Keep on smiling face… cause the smiling face is the sign of happiness people…

(sorry kalo my english acak kadul, tapi aku yakin rekan-rekan paham akan artinya…)


GBU Everybody


.Sarlen Julfree Manurung 

Friday, 1 May 2009

Mobil Wapres Dilempar Batu Kemarin Sore

Entah nekat, entah iseng, atau entah punya perasaan tidak senang dengan Wapres JK. Akan tetapi, tindakan dilakukan oleh Zulkarnaen (45 tahun) dengan melemparkan sebuah batu kearah mobil dengan plat nomor RI 2 yang sedang melintas di Jln. Medan Merdeka Barat, adalah sebuah tindakan yang dapat diganjar hukuman berat, karena dianggap telah menyerang dan membahayakan jiwa pejabat VVIP di negara kita.

Batu yang dilemparkan oleh Zulkarnaen, memang tidak langsung mengenai bagian body samping, depan, atau atas mobil wapres, namun hanya pada bagian bawahnya, karena batu yang dilemparkan oleh Zulkarnaen itu, tidak mengenai mobil, akan tetapi jatuh di jalan dan memantul ke bagian kolong mobil wapres.

Meskipun tidak menciderai diri Wapres Jusuf Kalla, namun adanya upaya penyerangan terhadap mobil wapres kemarin sore, kiranya mendapatkan perhatian serius aparat keamanan, khususnya dari pihak Paspampres, kepolisian dan intelijen negara, dengan meningkatkan pengamanan yang memadai atas jalur jalan yang akan dilalui oleh iring-iringan kendaraan dari rombongan presiden atau wapres. 

Kesigapan personel Paspampres yang berada di kendaraan pengawal di belakang mobil wapres dan aparat kepolisian yang bertugas di sekitar lokasi kejadian, memang patut kita berikan acungan jempol karena mereka telah bertindak cepat untuk segera melumpuhkan serta mengamankan Zulkarnaen agar tidak melakukan penyerangan maupun pelemparan batu lebih lanjut.

Akan tetapi, dilihat dari sisi konsep pengamanan jalur yang akan dilalui iring-iringan kendaraan VVIP yang diterapkan oleh pihak aparat kepolisian kemarin sore, terlihat jelas kalau aparat keamanan yang bertugas di lokasi peristiwa, dalam posisi lengah untuk segera mengantisipasi agar tidak terjadi atau cepat bertindak untuk mencegah adanya upaya pelemparan batu oleh Zulkarnaen.

Lengah dan lemahnya sifat antisipatif aparat keamanan yang bertugas mengamankan jalur yang akan dilalui oleh iring-iringan kendaraan VVIP, dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berseberangan ideologi atau tidak senang dengan pemerintah, untuk melakukan tindak penyerangan atau hal-hal lain yang dapat membahayakan nyawa pemimpin negara.

Tingkat kesiagaan dan kesiapan aparat keamanan untuk mengamankan jalur yang akan dilalui oleh iring-iringan kendaraan VVIP, nampaknya harus dievaluasi kembali oleh pihak pimpinan aparat kepolisian maupun intelijen, agar tindakan-tindakan yang dapat menciderai atau bertujuan untuk membahayakan diri kepala negara dan pemimpin bangsa lainnya, dapat dicegah sedini mungkin oleh petugas yang ditempatkan untuk mengamankan lingkungan disekitar jalur jalan yang akan dilalui iring-iringan kendaraan VVIP.

Upaya pengamanan para pemimpin nasional harus tetap berada pada level siaga dan waspada, apalagi bangsa kita pada saat ini sedang dalam tahap persiapan pemilu pasangan presiden dan wakil presiden, dimana suhu politik sedang meninggi atau sedang tinggi-tingginya.

Presiden serta Wakil Presiden adalah salah satu dari simbol berdaulatnya suatu negara. Apabila ada ancaman dari pihak-pihak tertentu yang dapat menciderai para pemimpin bangsa, itu sama artinya, ancaman itu ditujukan pada negara. Kita harus mencegah hal itu terjadi pada diri para pemimpin bangsa kita. 

.Sarlen Julfree Manurung

Thursday, 30 April 2009

Pemilu 2009, Kisah Rumit yang Tak Indah untuk Pendidikan Politik Kita

Banyak hal yang masih belum benar dilakukan dalam penyelenggaraan pemilu legislatif pada tanggal 9 April 2009 yang lalu, membuat komunikasi dan kegiatan politik yang dilakukan oleh para politisi kita tidak layak untuk dijadikan model pembelajaran politik yang baik bagi generasi muda bangsa. 

Padahal, dunia politik tidak hanya terkait pada bagaimana cara mengapresiasikan cara pandang dan ideologi politik pribadi maupun sekelompok politisi kedalam kerangka sistem perpolitikkan atau tatanan hukum negara nasional, atau upaya mengaktualisasikan hal-hal yang telah disepakati untuk dilaksanakan dengan mengedepankan konsep pengambilan keputusan politik secara konstitusional, namun terkait pula dengan bagaimana upaya berbagai elemen atau komponen politik dapat membangun komunikasi serta pendidikan politik yang bermartabat dan berwibawa, untuk kepentingan dan kemajuan bangsa di masa yang akan datang.

Adanya sejumlah kepentingan politik membuat para politisi dan elite politik bangsa kita lebih senang bermain-main pada ranah yang hanya bertujuan untuk menyenangkan hati komunitas atau kelompok mereka semata, dimana sikap mereka itu sesungguhnya telah melupakan upaya mendasar dan yang seharusnya mereka lakukan, yaitu untuk membangun image politik Indonesia yang bersih dari perilaku curang serta tidak demokratis.

Manipulasi serta upaya penggelembungan suara terjadi semenjak pemilu dalam tahap persiapan dan terjadi dimana-mana. Pada proses selanjutnya, segenap protes dan ungkapan penolakan hasil pemilu dengan mudahnya ditanggapi hanya dengan pernyataan : "Terima saja dulu, mari kita pikirkan agar pelaksanaan pemilu Presiden dapat berjalan lebih baik."

Ketika masyarakat menaruh harapan besar akan adanya penyegaran pribadi-pribadi yang mengisi struktur penyelenggara negara melalui pemilu, ternyata masyarakat justru disodori berbagai tindakan melemahkan makna dan arti demokrasi, yaitu dengan cara membenarkan berbagai tindakan yang salah dan dipaksa menerima sesuatu hal yang masih belum benar dalam pelaksanaannya.

Sesuatu yang masih belum benar dipaksakan agar dapat diterima. Padahal, segala sesuatu yang tidak atau belum benar, pasti akan menghasilkan banyak hal yang tidak atau belum benar pula di masa yang akan datang. Why? Karena dasarnya sudah tidak benar.

Dalam pelaksanaan pemilu legislatif tanggal 9 April 2009 yang lalu, masyarakat memang benar-benar dipaksa untuk menerima sesuatu yang salah dan belum benar dilaksanakan untuk masuk dalam sistem pembagian kekuasaan negara, yaitu dengan menggunakan metode pembenaran, bahwa mengulang pemilu hanya akan menghabiskan biaya.

Inikah kondisi yang dianggap benar dan ingin dikembangkan dalam tatanan kehidupan berpolitik di negara kita?

Pada tahapan selanjutnya, pesta demokrasi justru menjadi ranah persaingan antar elite politik dalam memperebutkan kursi puncak kekuasaan. Koalisi dibangun agar dapat menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki kuasa. Masalahnya, kata kompromi sulit dicapai untuk membangun koalisi karena masing-masing pihak ingin menjadi yang paling berkuasa.

Keriuhan pembentukan koalisi dan penentuan calon pendamping pemimpin bangsa, segera menjadi bahan pembicaraan di media. Masyarakat yang sudah berada pada titik gamang atas kondisi perpolitikkan nasional, menyaksikan semangat besar untuk berkuasa dari para elite politik bangsa, yang dengan mengatasnamakan rakyat, saling mengembangkan konsep berpikir normatif menurut pandangan diri mereka atau kelompok mereka sendiri, untuk memenuhi hasrat ambisius yang membuat kaki mereka lupa memijak tanah. 

Ingin berkuasa membuat suara rakyat tidak didengar. Saat ini, suara rakyat hanya ditampung, namun tak pernah ada niat untuk diakomodasikan. Semua elite politik partai pemenang pemilu langsung merasa menjadi pihak yang paling berhak didukung untuk berkuasa. Mereka bilang : "Ini kompetisi, bung!"

Dimanakah kebebasan masyarakat untuk memilih yang terbaik dalam kehidupan berdemokrasi itu diletakkan, kalau masyarakat sendiri tidak dilibatkan?

Politik di negara kita memang merupakan gerbong serta sarana mengakali dan mencari keutungan pribadi atau kelompok semata. Motivasi untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa, entah ada pada urutan ke berapa.

Para elite politik nampaknya lupa kalau perilaku mereka dilihat oleh generasi muda bangsa kita, yang notabene sangat awam dengan dunia politik. Generasi muda bangsa, yang sejumlah orang diantaranya akan menjadi penerus aktifitas politik yang selama ini mereka lakukan sebagai politisi, ternyata mendapatkan pola pembelajaran politik yang tidak baik untuk dikembangkan dalam negara yang mengembangkan semangat demokrasi seperti negara kita, Indonesia.

Inikah yang harus generasi muda pelajari dari dunia politik kita? Politik memang lentur bagaikan karet. Tapi itu bukan berarti kepentingan masyarakat bisa dilupakan hanya karena para elite politik ingin menjadi penguasa atau orang yang paling berkuasa di negeri ini.

Terlalu besar rasanya ongkos politik yang harus rakyat tanggung karena para elite politik kita selalu membatasi langkahnya untuk mendorong kemajuan pola pendidikan politik generasi muda, sebab mereka terlalu sibuk dengan upaya memperebutkan kursi panas di parlemen dan pemerintahan, hingga akhirnya muncul anggapan kiranya sah-sah saja untuk melupakan kemajuan hidup rakyat.

Mereka bilang, diri mereka sadar kalau keberadaan mereka adalah untuk membangun rakyat. Bagaimana kenyataan? We know lahhh...

Apakah rakyat pernah meminta lebih? Tidak, rakyat Indonesia hanya ingin mereka dapat hidup layak dan negara ini tidak tegang hanya karena ramai-ramai mencoba memperebutkan kursi kekuasaan. Masyarakat hanya ingin adanya pemerintahan dan wakil rakyat yang benar-benar berpihak pada mereka, dan bukan hanya pada sekelompok orang saja.

Kepada para politisi, jadilah pribadi-pribadi manusia yang dapat memberikan pembelajaran politik yang baik kepada generasi muda penerus bangsa. Negara ini ada bukan hanya untuk hari ini tapi juga untuk masa yang akan datang. Keutuhan negara ini adalah tanggung jawab Bapak-Ibu politisi sekalian. Jadilah panutan pada masyarakat, berikanlah pendidikan politik yang benar dan bermartabat agar Indonesia tetap jaya hingga masa waktu ratusan tahun lamanya.

Hiduplah Indonesia Raya... 

Wednesday, 29 April 2009

Belajar Mendengarkan Nasehat Orang Lain

Banyak orang yang sering kali terpaku oleh faktor-faktor kebiasaan yang selama ini biasa dijalani. Pada satu sisi, sejumlah faktor-faktor kebiasaan itu, bukanlah sesuatu hal yang penting, namun memberikan dampak besar terhadap rasa nyaman saat menjalani alur kehidupan. Sedangkan pada sisi yang lain, ada juga sejumlah faktor-faktor kebiasaan yang menjadi sumber inspirasi dalam hidup ini.

Akan tetapi, kita juga jangan mengartikulasikan segenap faktor-faktor kebiasaan kita secara bebas dalam lingkup pergaulan kita, karena tidak semua orang sependapat bahwa kebiasaan kita itu layak untuk dipertahankan, atau untuk sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik di mata orang lain.

Faktanya memang demikian. Kehidupan pergaulan memang mengajarkan banyak hal. Ada saatnya mengajarkan kebaikkan, namun ada pula nilai-nilai buruk yang menonjol. Dalam hal ini, kita harus bisa memilah-milah dan memberikan pembedaan dalam menunjukkan sikap atau gaya pergaulan kita, karena seleksi alam dapat terjadi apabila kita tidak dapat menyesuaikan diri.

Janganlah kita memelihara hal-hal yang tidak baik. Kita juga harus bisa menerima apabila ada orang-orang disekitar kita yang ingin "mengkoreksi" perilaku kebiasaan buruk yang melekat dalam diri kita. Kita tidak dapat terpaku pada pendirian kita saja, terutama apabila masyarakat yang ada di sekitar kita sudah mulai ada yang mengatakan kata-kata : "Coba rubah perilaku burukmu..."

Ketika ada orang yang mengatakan pada diri kita untuk merubah perilaku buruk kita, itu tandanya orang tersebut sayang sama kita dan tidak ingin kita memiliki perilaku buruk dalam diri kita. 

Awalnya mungkin kita akan tersiksa menerimanya. Kita akan merasa seakan-akan telah dihakimi. Tapi itu hanya awalnya saja, karena kita terlalu terbawa perasaan kita, tanpa kita mau menyadari adanya kebenaran dalam nasehat seseorang tersebut. Nasehat itu, bukanlah sebuah tanda penghinaan atau kita mengartikannya kalau diri kita sedang direndahkan. 

Janganlah kita selalu menilai dari sisi negatif, karena nasehat itu bertujuan agar kita dapat hidup secara positif. Apabila kita pikirkan dan telaah baik-baik adanya nasehat tersebut, kita akan tahu bahwa melakukan sesuatu yang disampaikan seseorang itu, bukanlah sebuah kesalahan.

Pada dasarnya, didalam kehidupan, ada proses pembentukan jati diri dan sikap diri. Apabila kita ingin diri kita menjadi pribadi yang benar-benar (seutuhnya) menyenangkan, selayaknya kita tidak menyimpan kejelekkan sikap atau perilaku buruk, yang bisa membuat kita berada dalam lembah "rasa bersalah" atau "rasa amarah" karena gak suka dinasehati orang lain.

Ingat! Kita bukanlah orang suci. Tidak seluruh hidup kita dijalani dengan benar. Saya pun mengakui kalau gaya dan cara hidup saya, belum benar seluruhnya. Tapi melalui tulisan saya ini, saya ingin mengajak rekan-rekan untuk dapat menerima adanya nasehat dari orang lain, tanpa menghadirkan prasangka buruk atau pikiran yang menganggap, bahwa diri kita sedang dihakimi pada saat dinasehati orang lain. Jangan... Jangan seperti itu.

Ketika orang lain menasehati, itu sama artinya orang lain ingin kita "tampil" lebih baik. Itu bukan menyesatkan, itu bukan bermaksud menyudutkan, tapi memperbaiki. 

Cobalah untuk tidak membuat respon sebelum kita mendengarkan. Bagaimanapun, kalau kita ingin didengarkan orang lain, kita juga harus mau mendengarkan orang lain. Itu namanya, kita menjaga keseimbangan penerimaan dalam berpendapat atau mengembangkan struktur dialog yang tepat.

Apabila orang lain ingin kita hidup benar dan menjalani cara atau gaya hidup benar, apakah itu sebuah kesalahan? Tidak, sama sekali bukan. Itu namanya, orang lain tersebut telah menyatakan kasihnya pada kita, dan tidak menginginkan kita terlena dan akhirnya tetap menyimpan perilaku buruk dalam diri kita. Orang lain itu, sedang menginginkan yang terbaik dari diri kita.

Belajarlah untuk mendengarkan nasehat orang lain (nasehat positif tentunya yaaa), karena itu berarti kita mau belajar untuk hidup benar dan menjalani hidup ini dengan benar. 


.Sarlen Julfree Manurung

If Our Leader

Ketika pimpinan kita tutup mata dan telinga, apa yang harus kita lakukan? Tidak ada, selain menunggu ia membuka mata dan telinganya, atau salah satu darinya...

Tak Sekedar Indah Di Depan Mata

Kalau Anda mau melihat sesuatu itu memang benar-benar indah, tutuplah mata Anda dan pandanglah keindahan itu dalam hati, bukan dalam gelapnya mata yang tertutup. Why? Supaya ketika Anda membuka kembali mata Anda, Anda tahu, bahwa yang Anda lihat didepan mata Anda sekarang, memang seindah yang Anda lihat di hati Anda.

Mata Anda tidak akan pernah bisa melihat keindahan dalam gelap, tapi mata hati Anda, BISA...