Showing posts with label pertanian. Show all posts
Showing posts with label pertanian. Show all posts

Friday, 25 October 2013

MATEMATIKA PERTANIAN

Di salah satu desa subur di Bojonegoro - Jawa Timur, kala sang surya baru menampakkan raut muka. Pak budi dan ubaid sedang jalan-jalan menyusuri persawahan. Pak budi mulai pembicaraanya   rata-rata Dengan cara bertani konvensional, pendapatan petani memang tidak menarik. Tetapi petani bukan tanpa harapan, ada peluang besar menanti mereka. Yang disebut bertani konvensional adalah bertani seperti yang dilakukan oleh para petani sekarang. Sekali menanam, panen sekali dan untuk ini diperlukan tenaga kerja yang intensif, biaya benih, pupuk dan obat-obatan. Akibatnya tanah menjadi seperti orang yang kecanduan, bila tidak diberi pupuk produksi langsung turun – tetapi bila terus diberi pupuk – kualitas tanah juga terus menurun secara gradual, dan dalam jangka panjang produktifitas lahan juga pasti turun.
Bila petani Indonesia rata-rata memiliki lahan 0.25 hektar, maka di daerah yang paling subur sekalipun mereka biasanya hanya akan panen padi tiga kali. Katakanlah masing-masingnya 6 ton/hektar petani dengan 0.25 ha lahan hanya akan mendapatkan 1.5 ton gabah sekali panen. Dengan harga gabah sekarang dikisaran Rp 5,000/kg; petani hanya memperoleh hasil penjualan gabahnya Rp 7.5 juta per panen. Tiga kali panen berarti mendapatkan Rp 22.5 juta.
Tetapi ingat bahwa Rp 22.5 juta ini adalah penjualan kotor, setelah dipotong biaya tenaga kerja, bibit, pupuk dan obat-obatan katakanlah 50 %-nya, maka petani dengan luas lahan 0.25 hektar yang subur hanya akan mendapatkan pendapatan bersih Rp 11.25 juta setahun (tiga kali panen) atau Rp 937,500,- bila dirata-rata bulanan.
Lau jika dibandingkan dengan Gaji pegawai negeri terendah-pun kini Rp 1,323,000 per bulan (golongan 1 A dengan masa kerja nol tahun), jauh lebih tinggi dari petani rata-rata yang memiliki lahan 0.25 hektar. Maka tidak mengherankan bila para petani hingga kini menjual lahannya untuk membiayai anaknya masuk menjadi pegawai negeri dlsb.
Bila arus ini dibiarkan terus menerus, maka akan semakin banyak lahan-lahan petani yang jatuh ke tangan orang kaya hanya untuk sekedar klangenan (hiburan), mereka tidak antusias mengolahnya dan malah lebih sering hanya sebagai investasi belaka. Ketahanan pangan nasional akan terancam bila praktek demikian dibiarkan.
Lantas apa solusinya, pak?, kata ubaid kepada pak Budi.
setidaknya  dua solusi yang kami padukan dari multi disiplin dan masing-masing keahlian telah memulai mencobanya di lapangan
Pertama, adalah Go Organic – ini yang sudah dicoba oleh team kami di Jawa-Timur dengan hasil yang sangat baik. Bertani organic tidak harus mahal, justru sebaliknya bisa menjadi murah karena tidak ada pupuk dan obat-obatan kimia yang perlu dibeli mahal, cukup membuat sendiri dengan komponen microba yang sangat murah.
Menurut hitungan team kami bahkan setelah sekitar 15 kali panen (5 tahun), pupuk-pupuk organic-pun tidak diperlukan sama sekali. Tanah sudah kembali subur alami kembali ke pra PD II sebelum pupuk kimia dikenal.
Kedua, melengkapi pojok-pojok sawah petani dengan tanaman jangka panjang yang diambil buahnya. Ide kami adalah bisa kurma, zaitun, anggur atau kombinasi diantaranya. Petani hanya perlu menanam sekali tetapi akan terus memetik hasilnya sampai anak turunan mereka.
Dengan dua langkah ini saja matematika petani sudah akan jauh berubah. Dengan hasil yang dua kali lipat dan biaya yang separuh dari sebelumnya, maka bertani sudah bisa kembali menarik.
Hasil dua kali lipat ini ditunjukkan oleh beberapa kali panen padi organik kami di Boyolali yang berada di sekitar angka 12 ton/hektar atau 3 ton untuk tanah 0.25 hektar. Penjualan kotor padi petani menjadi 3x3,000xRp 5,000 = Rp 45,000,000. Setelah dipotong biaya tenaga kerja dan pupuk organik Rp 11,250,000, petani dengan 0.25 ha lahan akan memiliki penghasilan bersih Rp 33.75 juta setahun atau rata-rata Rp 2,812,500 sebulan.
Dengan angka ini saja bertani sudah bisa kembali lebih menarik ketimbang memaksakan diri menjual sawah untuk biaya anak masuk menjadi pegawai. Hasil bertani akan semakin menarik, manakala pohon-pohon jangka panjang yang ditanam tersebut mulai berbuah beberapa tahun kemudian.

Dari sinilah kami melihat masa depan cerah bagi petani bisa kembali kita visikan. Bila masa depan petani cerah, maka ketahanan pangan nasional-pun insyaAllah akan aman. Mudahkah ini? Tentu tidak, semuanya membutuhkan kerja keras yang memerlukan kesabaran. Tetapi semua itu mungkin dilakukan karena memang sudah dicoba. Lebih dari ikhtiar yang bersifat fisik, masyarakat juga perlu diajak untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaannya secara terus menerus. Hanya dengan iman dan takwa inilah negeri ini akan memperoleh keberkahanNya, dan di negeri yang diberkahi, hasil panenan itu banyak dan enak (QS 2:58). InsyaAllah ada jalan, “There is A will there is a way”.

Sunday, 13 October 2013

Teknologi Di Mata Kaum Senja Usia

Teknologi adalah sebuah pertanda kemajuan. Negara yang menguasai teknologi mutakhir, akan tergolong Negara maju. Di zaman sekarang, seseorang yang gaptek dengan teknologi akan di asingkan dalam keramaian. Seseorang yang mengusai teknologi akan mengusai jagat raya, bisa terbang melebihi kecepatan burung, hidup terasa mudah, bahkan bisa memperdaya manusia-manusia lainnya, bahkan bisa berubah menjadi manusia robot, manusia tanpa tanding. Itulah teknologi.
Bagaimana teknologi dimata kakek? Sebuah pertanyaan yang sempat saya ajukan sehabis mudik lebaran kemarin. Kakek memang sudah sangat uzur, usianya sudah memasuki 85 tahun, jauh sebelum Indonesia merdeka, kakek sudah lahir, bahkan dia ikut memanggul senjata mengusir Jepang dan Belanda di kampung, ikut bergerilya. Tak heran jika bulan agustus kemarin, selain karena bulan ramadhan, juga karena peringatan hari kemerdekaan, gairah hidup kakek hidup kembali, semangat 45, katanya.
Sebagai orang tua, punya pengalaman hidup yang panjang, akan identik dengan sebuah kebijaksaan. Demikian juga kakek, jika ketemu, seakan tidak lupa memberikan petuah-petuah, bekal untuk hidup.
Kembali ke pertanyaan saya diatas. Bagaimana teknologi dimata kakek? Di zaman perang, katanya, Belanda dan Jepang mempunyai teknologi yang lebih canggih dibanding dengan pejuang-pejuang waktu itu. Belanda dan Jepang mempunyai senjata yang cukup modern, dan dia sendiri hanya bersenjatakan ala kadarnya. Tapi itu dulu.
Sekarang, lanjutnya, teknologi sudah lebih canggih lagi. Bukan hanya senjata, tetapi semua jenis peralatan sudah sangat mutakhir. Sudah berubah 360 derajat. Kehidupan sudah berubah, dan kakekpun sudah uzur. Dulu, lanjutnya, naik mobil dari Makassar ke kampungnya di Bulukumba memakan waktu 3 hari, sekarang tinggal 3 jam. Dari kecepatan sudah sangat cepat, demikian pula dengan suara mobil. Suara mobil dulu, sekitar satu kilometer sudah tahu ada mobil yang datang, saking besar suaranya. Apalagi pesawat Jepang, katanya, lebih besar lagi, menderu-deru memekatkan telinga.
Itu tidak akan ditemui lagi sekarang. Sekarang mobil, motor tidak bersuara lagi. Pesawat yang biasa lewat diatas rumah, tidak lagi memekatkan telinga, karena memang tidak mengeluarkan suara lagi. Bukan itu saja, lanjutnya, bahkan dulu anjing di kampung sangat banyak, jika menggonggong biasa membuatnya jengkel, apalagi jika menggonggong dimalam hari. Mungkin karena pengaruh teknologi, anjing pun sekarang tidak lagi besuara, dia hanya seperti menguap, demikian juga ayam tidak lagi berkokok ataupun kambing tidak lagi mengambek. Semua sudah tidak lagi mengeluarkan suara. Teknologi membuat dunia sepi, tanpa suara.
Sejenak pun saya sudah meninggalkan kakek, harus berangka karena mobil jemputan sudah datang. Setelah pamit, sama keluarga, dan mencium tangan kakek, saya pun berangkat meninggalkan kampung. Pembicaraan terakhir dengan kakek, saya kira itu adalah sebuah kata-kata bijak yang mengandung seribu hikmat. Tetapi sekarang saya baru sadar. Karena usia kakek yang sudah uzur, sehingga pendengarannya pun sudah terganggu. Saya baru ingat, ternyata kakekku sudah tuli, pantas saja suara-suara teknologi tidak bisa lagi di dengarnya…

Persepsi yang salah, akan menimbulkan interpretasi yang salah pula. Karena persepsi di bangun oleh alat indera, maka untuk membuat interpretasi yang betul membutuhkan alat indera yang tajam.

Wednesday, 28 March 2012

Serangga Tomcat

Assalamualaikum Wr.Wb dan Selamat Siang Para Blogger - Setelah Post "Google Chrome Terbaru 2012" dan "Profil Natalie Margareth". Siang ini saya akan Share Informasi yaitu Bahaya Serangan Serangga Tomcat. Langsung saja Mari Kita Simak.

Bahaya Serangan Serangga Tomcat - Guru Besar Ilmu Serangga dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Aunu Rauf, mengungkapkan bahwa serangga tomcat adalah serangga yang tak asing bagi masyarakat Indonesia.
Di beberapa wilayah Indonesia, serangga tomcat sering kali disebut semut kanai atau semut kayap. Menurut Aunu, kumbang ini sejatinya merupakan spesies kumbang Paederus fuscipes.
"Masyarakat menyebutnya tomcat, mungkin karena bentuknya sepintas seperti pesawat tempur Tomcat F-14," Tomcat.

Menurut data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI,  jumlah pasien yang menderita luka akibat kontak dengan serangga Tomcat  mencapai 48 orang.

Dirjen P2PL Prof dr Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan persnya menyebutkan, jumlah tersebut adalah  yang tercatat dan berobat di 7 Puskesmas dan 1 layanan kesehatan swasta di Jawa Timur. "Sebagian pasien sudah sembuh, sebagian lain dengan keluhan di kulit yang tidak terlalu hebat.


Untuk menghadapi serangga Tomcat, Tjanda meminta masyarakat tidak perlu panik. Ia juga menyampaian 10 tips bagi masyarakat untuk menghadapai serangga Tomcat berikut ini :
  1. Jika ada menemukan serangga ini, jangan dipencet, agar racun tidak mengenai kulit. Masukkan ke dalam plastik dengan hati-hati, terus buang ke tempat yang aman.
  2. Hindari terkena kumbang ini pada kulit terbuka.
  3. Usahakan pintu tertutup dan bila ada jendela diberi kasa nyamuk untuk mencegah kumbang ini masuk.
  4. Tidur menggunakan kelambu jika memang di daerah anda sedang banyak masalah ini.
  5. Bila serangga banyak sekali, maka dapat juga lampu diberi jaring pelindung untuk mencegah kumbang jatuh ke manusia.
  6. Jangan menggosok kulit dan atau mata bila kumbang ini terkena kulit kita.
  7. Bila kumbang ini berada di kulit kita, singkirkan dengan hati-hati, dengan meniup atau mengunakan kertas untuk mengambil kumbang dengan hati-hati.
  8. Lakukan inspeksi ke dinding dan langit-langit dekat lampu sebelum tidur. Bila menemui, segera dimatikan dengan menyemprotkan racun serangga. Singkirkan dengan tanpa menyentuhnya.
  9. Segera beri air mengalir dan sabun pada kulit yang bersentuhan dengan serangga ini.
  10. Bersihkan lingkungan rumah, terutama tanaman yang tidak terawat yang ada di sekitar rumah yang bisa menjadi tempat kumbang Paederus.
Jika anda terkena Serangan Tomcat, Ini cara pengobatannya :
Serangga Tomcat atau kumbang Paederus menyerang warga Surabaya. Racun kumbang yang disebut paederin menyebabkan kulit seperti mengalami luka bakar dan mengeluarkan cairan dan gatal.

Siapa pun bisa terkena serangan si Tomcat. Serangga yang memiliki habitat di persawahan, hutan atau taman kota ini biasanya menyerang jika terancam. Jika sampai terserang, bagaimana harus mengatasinya?

Pakar serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hari Sutrisno, mengatakan, "Jika kena serangga ini, maka kita harus cuci dengan air sabun agar menetralisir racun."

Pengobatan tambahan bisa dilakukan. Pilihannya adalah dengan memakai salep Hydrocortisone 1 persen, salep Betametasone dan antibiotik Neomycin Sulfat 3 kali sehari, atau dengan salep Acyclovir 5 persen.

"Yang lebih berbahaya adalah jika sampai terjadi infeksi sekunder. Jadi jangan sampai terjadi luka karena kuman akan masuk," ungkap Hari.

Karena hal tersebut, Hari mengimbau pada korban untuk tidak menggaruk bagian yang memerah walaupun terasa gatal.

Lalu, bagaimana cara mencegah terkena serangan si Tomcat?

Ada indikasi bahwa kumbang Paederus juga aktif di malam hari dan tertarik dengan cahaya lampu. Serangan bisa dihindari dengan mencegah serangga ini masuk ke dalam rumah.

"Saat sudah gelap atau malam, sebelum menyalakan lampu, tutup semua jendela sehingga serangga tidak masuk.

Kumbang Paederus sebenarnya adalah kumbang yang menguntungkan bagi pertanian. Jenis kumbang ini adalah predator alami bagi hama seperti wereng.

Karena menguntungkan, sejauh ini belum dikembangkan cara untuk membasmi serangga jenis ini. Belum diketahui pula apakah serangga ini tak suka dengan bau sehingga bisa ditangkal dengan repellent.